Sistem Terkuat Bab 7

Daftar Isi
 

Bab 7

Seiring berakhirnya notifikasi system, Wahna merasakan tubuhnya penuh dengan kekuatan. Kulitnya mengeras sekeras batu, otot-ototnya kencang sekuat baja. Jika ada orang yang tahu bahwa Wahna bisa meningkatkan lima sekaligus dalam satu tarikan napas, dari tahap Kelahiran tingkat
Kesembilan ke tahap Pembentukan Tubuh tingkat Ketiga, mungkin mereka akan membenturkan kepalanya ke dinding. Betapa tidak, meskipun Tahap Kelahiran dan Tahap Pembentukan Tubuh dapat dilakukan oleh siapapun, namun kecepatan yang dicapai oleh Wahna benar-benar di luar imajinasi.
Selain kekayaan sumber daya dan pelatihan yang terus menerus, setidaknya membutuhkan waktu
lima tahun bagi seorang jenius. Tetapi Wahna, dalam waktu kedipan mata, dia langsung menuju lima tingkat sekaligus. Ingin melihat perubahan yang terjadi, Wahna langsung membuka Profile pada panel system.

Nama: Wahna
Ras: Manusia
Kultivasi: Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Ketiga
Poin Pengalaman: 3,3/10,5 (+)
Keterampilan Aktif: 
Tehnik Tinju Bumi (2/10), 
Tehnik Pedang Surgawi (0/10), 
Tehnik Telapak Dewa (1/10)
Keterampilan Pasif: 
Tehnik Pernapasan (1/10)
Kupon Undian: 0
Ruang Penyimpanan: 1 meter kubik (+)
Poin System: 0 Pts
Versi System: 1.0

Wahna cukup puas dengan panel yang ditampilkan system di hadapannya. Ia kemudian melanjutkan berlatih Tehnik Pedang Surgawi. Sekitar setengah jam kemudian, Tehnik Pedang Surgawi naik tingkat menjadi level satu. Wahna istirahat sejenak, lalu melanjutkan latihan pernapasan. Satu jam berlalu, mendengar lolongan Srigala Api di luar celah batu, membuat perhatiannya teralihkan dan menghentikan
latihan. Wahna bangkit dari duduknya dan beranjak, namun tepat ketika ia berdiri, suara notifikasi system berbunyi di kepalanya. System: “Ding! Selamat Tuan. Tehnik Pernapasan telah naik level. Level saat ini adalah 2/10." System: “Ding! Dengan level ini, Tuan dapat menyembunyikan napas di bawah kultivator Prajurit Alam tingkat Tinggi." System: “Ding! Indra spiritual Tuan juga memiliki jarak jangkau persepsi mencakup radius tiga puluh kilo meter." Wahna tersenyum lebar, sangat senang dengan notifikasi system yang tak terduga, “Waaah ... ternyata Tuhan benar-benar sayang padaku dengan system yang kuat." Kembali fokus pada Srigala Api, Wahna kembali ke pintu celah batu. Ia mencoba kembali Tehnik Pedang Surgawi seperti sebelumnya "Bam!” suara benturan teredam terdengar, cahaya merah dari sabetan pedang berhasil menghantam tubuh Srigala Api. Srigala Api melolong keras dengan mata melotot, perutnya terluka akibat tebasan Tehnik Pedang Surgawi yang dilakukan Wahna. Meskipun terluka, Srigala Api masih penuh dengan vitalitas. Tebasan pedang Wahna hanya berdampak pada luka ringan. Srigala Api menoleh ke arah Wahna, kembali melolong keras dengan tatapan marah. Tentu saja tebasan itu hanya menyebabkan luka ringan bagi Srigala Api. Tebasan Wahna hanya sedikit mengandung energi, kultivasinya belum memungkinkan baginya untuk menggunakan energi alam secara baik. Akibatnya, Wahna tidak memiliki kemampuan untuk mengalirkan energi tubuh ke bagian bilah pedang, kecuali Wahna telah mencapai Tahap Transformasi. “Sialan! Sialan! Dasar Srigala berengsek!” gerutu kesal Wahna dengan mengutuk terus menerus. Ia berbalik arah, kembali ke ruang kecil di dalam celah batu sebelumnya. Duduk di tanah dengan kedua
kaki ditekuk, Wahna meletakkan dagunya di atas lutut sembari memeluk kedua kakinya itu. Berpikir keras, mencari cara untuk bagaimana dia bisa keluar dari ruang sempit ini. Wahna tiba-tiba mengerutkat kening, ia melihat seberkas cahaya putih samar di salah satu dinding ruangan. Bangkit dan berdiri, Wahna berjalan menuju cahaya putih samar itu. Namun tidak ada apa pun kecuali hanya cahaya putih samar, yang seolah-olah, cahaya itu berusaha untuk keluar dari kedalaman dinding. Meraba-raba dinding batu yang tidak rata di depannya, dan secara tiba-tiba, Wahna mendapati dinding batu bergetar dan bergerak. Reflek, Wahna langsung melompat ke belakang dengan waspada. Dan alangkah terkejutnya Wahna kemudian, ternyata, dinding batu yang ia sentuh sebelumnya merupakan pintu ke
ruangan yang lain. Ruangan itu lebih luas empat kali lipat dari ruangan pertama. Seluruh ruangan tampak terang benderang dengan cahaya putih yang cenderung transparan. Dengan langkah perlahan dan sangat hati-hati, Wahna masuk ke ruangan itu. Matanya berbinar takjub, hampir seluruh dinding
batu dipenuhi dengan berbagai jenis tumbuhan obat. 'Ruangan apa ini?'pikir Wahna seraya mengedarkan pandangannya. Tatapan Wahna tertuju pada bagian tengah. Tampak sebuah tiang batu setinggi pinggang, terpancang secara alami dengan bentuk hampir menyerupai balok. Di ujung tertinggi satu-satunya tiang pendek itu, terdapat sebuah kotak giok. Ukurannya sebesar kotak smart phone, tanpa ukiran dan berwarna putih susu. Masih dengan sangat awas, Wahna melangkahkan kaki menuju kotak giok sembari bergumam lirih, "System, analisis!" System: "Ding! Api Chaos, Tuan. Merupakan jenis api yang berbeda dan berada di urutan pertama dari seluruh jenis api lainnya." System: "Ding! Api Chaos tidak berwarna dan tidak berbau. Dapat membakar apa pun sesuai keinginan pemiliknya. Api Chaos tidak dapat dipadamkan kecuali atas kehendak pemiliknya." 'Kenapa api seperti ini ada di sini? Apakah pemiliknya telah pergi?'pikir Wahna menduga-duga, memperhatikan kotak giok itu dengan kedua alis mengunci. Setelah ragu-ragu sejenak, secara perlahan, Wahna membuka kotak giok itu dengan tangan kanannya yang menjulur. Begitu kotak terbuka, Wahna mencondongkan badannya sedikit ke depan, menjulurkan kepala untuk melihat isi kotak. Dengan takjub, Wahna melihat segumpal api sebesar kepalan tangan balita. Warnanya putih transparan, warna yang sama dengan cahaya yang menerangi seisi ruangan. Penasaran, Wahna mendekatkan wajahnya. Ia ingin melihat segumpal api aneh itu lebihdekat. Tapi tepat ketika kepala Wahna bergerak menutup jarak, segumpal api transparan itu melompat secara tiba-tiba, langsung menuju kening Wahna, masuk ke tubuhnya dalam sekejap.
System: “Ding! Selamat, Tuan. Tuan telah mendapatkan Api Chaos, api terkuat di seluruh alam.”
System: “Ding! Selamat, Tuan. Kultivasi Tuan telah naik level. Level saat ini adalah Tahap
Pembentukan Tubuh tingkat Keempat...." System: "Ding! Selamat, Tuan. Kultivasi Tuan telah naik level. Level saat ini adalah Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kelima...." System: "Ding! Selamat, Tuan. Kultivasi Tuan telah naik level. Level saat ini adalah Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Keenam ...."
System: "Ding! Selamat, Tuan. Kultivasi Tuan telah naik level. Level saat ini adalah Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Ketujuh...." Dengan suara notifikasi system yang terus berdering di benaknya,
Wahna merasakan kekuatan yang luar biasa meledak-ledak di dalam tubuhnya. Aliran energi alam menjalar, ke seluruh pembuluh darah hingga ke sumsum tulang, memperkuat inci demi inci tubuhnya.
Wahna tersenyum cerah, saat ini dia dapat merasakan energi alam di sekitarnya. Dia dapat menyadari adanya energi mistis yang berada di udara tipis. "Akhirnya ... setelah naik ke Tahap Transformasi, maka aku bisa menggunakan energi alam sebentar lagi," ucap Wahna dengan penuh semangat. Teringat dengan Srigala Api yang menjadi lawan tangguh baginya, Wahna mengepalkan tangan kanan dan berkata, "Heh, Srigala! Kamu harus siap-siap menjemput ajalmu!" Merasa lebih kuat, Wahna tertawa terbahak-bahak. Saking gembiranya, tanpa sengaja ia tergelincir oleh beberapa batu yang terinjak, membuatnya jatuh terduduk seketika. "Sialan! Untung tidak ada yang lihat,” Umpat Wahna mengutuk
dirinya sendiri. System: “Ding! System melihat, Tuan." Wahna membeku dalam diam, bertanya-tanya di dalam hati, bagaimana mungkin System yang suaranya kaku dengan suara........

Bersambung ke Bab 8 .........





Posting Komentar