Sistem Terkuat Bab 5
Daftar Isi
Bab 5
"Ya!" jawab Wahna spontan, dan seketika, Pil Darah hancur menjadi partikel, diserap oleh tubuh Wahna di saat berikutnya. System: "Ding! Penyerapan Pil Darah dimulai, 1%... 25% ... 50%...75%... 100%."
System: "Ding! Selamat, Tuan. Poin Pengalaman bertambah lima koma nol enam. Poin Pengalaman
saat ini adalah lima koma nol tujuh." Wahna langsung membuka profile systemnya untuk melihat perubahan yang terjadi.
Nama: Wahna
Ras: Manusia
Kultivasi: Tahap Kelahiran tingkat Kedelapan
Poin Pengalaman: 5,07/3,52 (+)
Keterampilan Aktif: -Tinju Bumi (2/10),
Pedang Surgawi (0/10)
Keterampilan Pasif: tidak ada
Kupon Undian: 3
Ruang Penyimpanan : 1 meter kubik (+)
Poin System: 0 Pts
Versi System: 1.0
Wahna melihat tanda (+) di belakang Poin Pengalaman telah berubah warna, dari warna merah menjadi warna hijau, dia pun langsung menekan tanda (+) tersebut sekali.
System: "Ding! Selamat, Tuan. Kultivasi naik satu tingkat menjadi Tahap Kelahiran tingkat Kesembilan. Poin Pengalaman saat ini adalah satu koma lima lima." Dengan memandangi kedua lengannya sendiri, Wahna merasakan tubuhnya mengalami perubahan. Darahnya seakan mendidih, ototnya semakin kuat dengan daya tahan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
***
Keluarga Rahngu. Keluarga Rahngu merupakan keluarga Wahna. Nama Rahngu sendiri adalah marga, nama keluarga yang tersemat secara patrilineal. Ayudiah, ibu Wahna sedang cemas saat ini. Putra pertamanya yang mencari tumbuhan obat di pinggiran Hutan Kematian, belum juga kembali. Tumbuhan obat itu sedianya digunakan untuk luka dalam ayahnya, yang sudah tiga hari ini terbaring di atas tempat tidur. Kultivasi Wahyu Rahngu, ayah Wahna, berada pada Tahap Penyempurnaan Qi tingkat
Keenam. Sedangkan istrinya, Ayudiah, Ibu Wahna, berada pada Tahap Penyempurnaan Qi tingkat Ketiga. "Ibu, jangan khawatir! Kakak pasti segera kembali," ujar Dira Rahngu sambil memegang tangan Ayudiah, berusaha menenangkan kecemasan ibunya. Dira Rahngu adalah adik perempuan Wahna, seorang gadis kecil cantik berusia sepuluh tahun. "Bagaimana Ibu tidak khawatir, Kakakmu belum kembali dan hari sudah mulai petang," sahut Ayudiah, matanya sudah berkaca-kaca dengan napas yang tidak teratur. Ayudiah kemudian melangkah ke arah kamar, tempat di mana Wahyu Rahngu terbaring lemah, mengutarakan kekhawatirannya, "Ayah, Wahna belum kembali. Tidakkah Ayah menyuruh Rimo untuk memeriksanya?" "Tenanglah, Bu! Wahna sudah besar. Dia tidak mungkin bertindak gegabah di Hutan Kematian," jawab Wahyu Rahngu kepada istrinya. "Saya akan memeriksanya, Tuan," sahut Rimo menanggapi, yang kebetulan posisinya berada di belakang Ayudiah.
"Ya, cobalah periksa! Mungkin Wahna sedang dalam perjalanan pulang," kata Wahyu Rahngu dengan suara lemah. Tidak menunda, segera Rimo berangkat menuju Hutan Kematian.
***
Hutan Kematian terbagi menjadi tiga kawasan. Yakni Kawasan Inti, Kawasan Dalam dan Kawasan Pinggiran. Setiap kawasan terbagi lagi menjadi beberapa bagian, yang kesemuanya disesuaikan dengan tingkat bahayanya. Kawasan Pinggiran Hutan Kematian terbagi menjadi tiga, yaitu Pinggiran Luar, Pinggiran Dalam dan Pinggiran Perbatasan. Pinggiran Luar dan Pinggiran Dalam merupakan kawasan yang biasa dijadikan tempat untuk berlatih bagi para kultivator dari Kota Ragane. Bahkan tidak jarang,
kultivator dari luar kota pun sering terlihat menuju pinggiran Hutan Kematian. Rimo adalah seorang pelayan yang telah lama bekerja di Keluarga Rahngu. Rimo bukan hanya sekedar seorang pelayan bagi Wahyu Rahngu, pria paruh baya ini juga sebagai seorang teman sejak kecil. Wahyu Rahngu sekeluarga selalu memperlakukan Rimo seperti saudara mereka sendiri, termasuk membantu keluarga Rimo.
Dengan kultivasi Rimo saat ini, yang berada pada Tahap Penyempurnaan Qi tingkat Keempat, hanya sekitar satu jam perjalanan menuju Pinggiran Luar Hutan Kematian. Hendak melangkah lebih jauh,
Rimo melihat serombongan orang berkuda, yang tampaknya baru keluar dari pinggiran Hutan Kematian. Rombongan itu adalah dari Keluarga Dege, pihak yang sebelumnya menganiaya dan melemparkan Wahna ke kedalaman jurang Hutan Kematian.
"Hei! Kamu pelayan Wahna! Sedang apa kau di sini? Apa kamu mencari Wahna?" tanya Baimu
Dege kepada Rimo dengan tampang sinis dan meremehkan. "Iya. Apakah Tuan Muda Dege melihat Tuan Muda Wahna?” balas Rimo dengan sopan. "Tidak perlu dicari! Mungkin dia sudah mati dimakan binatang buas. Lagi pula, untuk apa kamu mencari sampah,” kata Baimu sembari memalingkan muka, dan langsung memacu kudanya tanpa menunggu Rimo melanjutkan atau menjawab perkataannya. Rimo mengerutkan kening, menatap ke arah rombongan Tuan Muda Dege yang berlalu pergi dengan berbagai tanya di kepala. Mengabaikan pikirannya sendiri, Rimo tetap menuju Pinggiran Luar Hutan Kematian. Tiga jam mencari, tetap saja dia belum menemukan keberadaan Wahna. Kawasan Pinggiran Luar cukup luas, mencakup tiga kilo meter ke arah dalam hutan. Pada area ini, umumnya dihuni oleh binatang buas yang tidak terlalu berbahaya. Sehingga sering dijadikan tempat berlatih bagi kultivator Tahap Kelahiran maupun Tahap Pembentukan Tubuh. Setelah ragu-ragu sejenak, Rimo melanjutkan pencariannya menuju Pinggiran Dalam Hutan Kematian. Area ini mencakup lima sampai enam kilo meter dari batas Pinggiran Luar. Kultivator Tahap Transformasi, Tahap Penyempurnaan Qi, maupun Tahap Penyempurnaan Roh, adalah kekuatan yang menjadikan area ini sebagai tempat berlatih. Lima jam sudah Rimo berada diarea Pinggiran Dalam Hutan Kematian, namun belum juga menemukan keberadaan Wahna. Membuatnya semakin khawatir dan berpikir yang tidak-tidak.
'Tidak mungkin Tuan Muda akan masuk ke area Pinggiran Perbatasan. Mengingat kecerdasannya, Tuan Muda pasti berada di area Pinggiran Luar sisi lainnya, 'gumam Rimo di dalam hatinya, bergegas kembali ke Keluarga Rahngu untuk melaporkan situasi.
***
Hutan Kematian Wahna sedang berlatih Tehnik Pedang Surgawi dan Tehnik Telapak Dewa di dalam ruang celah batu. Kondisi fisiknya pun mulai meningkat detik demi detik. "System, gunakan Kupon
Undian!" pinta Wahna penuh semangat. System: "Ding! Menggunakan satu Kupon Undian berhadian."
Seketika, muncul hologram dalam bentuk piringan bundar di................
Bersambung ke Bab 6........
Posting Komentar