Sistem Terkuat Bab 20

Daftar Isi


Bab 20 

Seolah mereka melihat dewa
kematian sedang berdiri di hadapan mereka.
Wahna tidak peduli dan tidak
berhenti. Memasukkan belati ke
ruang penyimpanan system, tangan
kanannya menjulur ke samping,
sebilah pedang kusam muncul dari
udara tipis, langsung tergenggam di tangan.
'Gerakan kedua, Tebasan
Maut!' raung Wahna dalam hati.
Melompat tinggi ke udara,
Wahna menebaskan pedangnya ke
udara kosong, langsung ke arah
kawanan bandit yang masih berdiri
terpaku, "Slash!"
"Buk! Buk! Buk!" dalam sekali
tebasan, tiga kepala bandit 
terguling di lantai tanah. Pun belum
berhenti, Wahna menebas lagi dan
lagi, hingga muncul notifikasi
system di benaknya.
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tehnik Pedang Surgawi telah naik
tingkat. Level saat ini adalah 2/10."
Sebenarnya, entah berapa kali
notifikasi system terdengar di benak
Wahna. Setiap kali ia memenggal
kepala bandit, dering notifikasi
terus berbunyi.
Namun Wahna
mengabaikannya, ia terus bergerak,
tidak menentu, muncul di antara
kawanan bandit dan memenggal
mereka tapa peringatan.
Dari dua ratus bandit yang
mengepung, hanya tersisa sekitar 
tiga puluh orang saja. Tak pelak,
mereka langsung bergerak mundur,
bahkan ada yang melarikan diri.
Melihat situasinya terbalik, dua
orang pimpinan bandit, yang saat
ini sedang bertarung dengan kedua
paman Wahna, panik dan mencoba
melarikan diri.
Namun nahas, ketika mereka
lengah terhadap pergantian
peristiwa yang begitu tiba-tiba,
keduanya terkena serangan fatal
dari paman Wahna.
Tidak menyia-nyiakan
kesempatan, Wahna langsung
bergerak cepat, memenggal kedua
pimpinan bandit dengan tebasan pedang.
Bagi Wahna, kedua pimpinan 
bandit ini adalah Poin
Pengalamannya yang cukup
berharga. Nilainya lebih tinggi dari
kebanyakan bandit yang menjadi sasarannya.
Tidak berhenti sampai di situ,
Wahna kembali bergerak,
membantai para bandit yang belum
sempat melarikan diri.
Dalam waktu singkat, jalanan
itu penuh darah, dipenuhi mayat-
mayat bergelimpangan. Wahna
sibuk memeriksa setiap tubuh para
bandit, mengumpulkan tas ruang
yang mereka miliki.
"Senior, terima kasih atas
bantuan Senior," sapa Paman Kedua
Wahna dengan badan membungkuk.
Menegakkan badan dan
menoleh, Wahna melemparkan satu
tas ruang yang berisikan sejumlah
koin emas, “Beri mereka masing-
masing lima puluh koin emas!
Sisanya untuk biaya perawatan yang
terluka dan kebutuhan keluargamu."
Tanpa menunggu jawaban
paman keduanya, Wahna melompat
ke ketinggian pohon, menghilang
dari pandangan rombongan
Keluarga Rahngu.
Suasana menjadi hening,
seluruh orang di kelompok
Keluarga Rahngu masih termangu,
menatap ke arah yang sama, arah di
mana perginya sosok tak dikenal itu. 
Entah siapa yang memulai,
semua orang membungkukkan
badan ke satu arah itu, penuh rasa
syukur dan ucapan terima kasih.
Terlebih lagi bagi para penjaga,
mendapatkan lima puluh koin emas
adalah sesuatu yang tidak pernah
mereka impikan sebelumnya. Upah
mereka dalam pengawalan ini,
hanya berkisar tiga sampai lima
koin emas saja.
***
Pada tempat yang berbeda,
masih di hutan dekat perbatasan
Kota Ragane, tampak tujuh orang
terengah-engah, duduk bersandar
pada sebuah batang pohon besar.
"Siapa sebenarnya orang itu?
Apakah Keluarga Rahngu menyewa 
kultivator kuat?" gumam heran
seorang bandit, menyeka keringat
dingin di dahinya.
Seorang bandit yang lain
menanggapi, “Mungkin saja. Tetapi
dengan melihat efektivitas
tempurnya, apakah mungkin
Keluarga Rahngu mampu
membayarnya? Aku tidak
menyangka, Keluarga Rahngu
memiliki pelindung yang kuat.”
"Siapa?" salah seorang bandit
langsung berteriak, dia merasakan
dirinya sedang diawasi oleh pihak lain.
Spontan semua orang berdiri
dan waspada. Seseorang dengan
pakaian serba hitam ala ninja,
mendarat dan berdiri sepuluhan 
meter di depan mereka.
"Siapa kamu sebenarnya?
Berapa Keluarga Rahngu
membayarmu? Kami bisa
melipatgandakannya jika kamu
berada di pihak kami,” bujuk
seorang bandit Tahap Transformasi
tingkat Kedelapan.
Mendengar itu, Wahna
mengerutkan kening, dan pura-
pura bertanya, "Benarkah? Tidak
tertarik!"
"Kamu tidak mungkin bisa
mengalahkan kami ketika kami
bekerja sama," ancam salah satu
bandit, langsung menyerukan
rekan-rekannya yang lain, “ayo!
Serang dia secara bersamaan!"
Namun, tepat ketika serangan 
hendak dilancarkan, semua orang
hanya berdiri diam di tempat. Lima
detik berikutnya, enam di antaranya
menjerit, jatuh berlutut,
memuntahkan seteguk darah,
tewas seketika setelahnya.
Wahna telah mengaktifkan
Tehnik Mata Dewa, menciptakan
ilusi penyiksaan pada jiwa keenam orang itu.
Mendapati enam rekannya
tewas tanpa tahu apa penyebabnya,
satu-satunya bandit yang tersisa,
gemetar tidak terkendali, jatuh
berlutut saat itu juga.
"Senior, tolong jangan bunuh
aku, Senior! Aku hanya
menjalankan perintah," rengek
bandit itu, bercucur air mata 
memohon belas kasihan.
Melihat bandit itu menangis,
Wahna sebenarnya ingin tertawa
terbahak-bahak. Bagaimana tidak,
penampilan dan tampang bandit
sangat bertolak belakang dengan
kondisinya sat ini.
Bertubuh kekar, wajahnya
terlihat sangar, bahkan terdapat
bekas diagonal di wajahnya. Belum
lagi dengan pedang yang
dibawanya, ukuran jauh lebih besar
dari yang pernah dilihat Wahna.
Tapi kini, pria sangar nan kekar
itu sedang menangis, memohon
belas kasihan, bahkan bergelimang
ingus dari hidungnya.
"Oh, menjalankan perintah?
Tugas dari siapa? Apa kamu pikir 
aku peduli?!" sahut Wahna dengan dingin.
"Senior, Senior tidak bisa
membunuhku. Jika tidak, Tuan
Muda akan membuat Senior berada
dalam kesulitan," kata pria kekar
itu, melihat ada keraguan di mata
Wahna, bandit itu memberanikan
diri untuk bangga terhadap
identitas kekuatan di belakangnya.
"Tuan Muda? Jangankan Tuan
Muda, bahkan jika Tuan Tua
sekalipun, aku tidak peduli," lontar
Wahna sembari melangkah maju,
perlahan-lahan ke arah bandit itu.
"Senior, tolong ampuni
hidupku! Keluarga Wade akan
berterima kasih untuk ini dan---.
sebelum bandit itu menyelesaikan 
kalimatnya, kepalanya sudah
terlepas, jatuh di lantai tanah
dengan mata membelalak.
'Keluarga Wade? Bukankah
keluarga ini merupakan keluarga
kelas satu! Kenapa keluarga ini
memusuhi Keluarga Rahngu?
Apakah ini kekuatan di belakang
Keluarga Dege yang dimaksud
Kakek?'batin Wahna menduga- duga.
Memeriksa tubuh para bandit
dan mengambil apa pun yang
berharga, Wahna membakar tubuh
para bandit itu dengan Api Chaos,
memusnahkan mereka menjadi abu
sebelum meninggalkan tempat.
***
Di tengah perjalanan, ayah 
Wahna dan rombongan bertemu
dengan kelompok Mistur Rahngu.
"Adik Kedua, bagaimana
keadaanmu?” melihat sebagian
penjaga terluka, Wahyu Rahngu
bertanya dengan cemas.
Mistur Rahngu menarik napas
panjang sebelum menjawab, “Kami
baik-baik saja. Ada seorang senior
yang membantu ketika kami
dikepung oleh dua ratusan orang
kawanan bandit. Jika senior itu
tidak datang tepat waktu, mungkin
kami sudah---”
Belum selesai Mistur Rahngu
berbicara, Zaleh Rahngu menyela
dan berseru, "Senior itu sangat
kuat, Kak! Hampir semua bandit
dibantai kurang dari sepuluh menit."
Mendengar ini, baik Wahyu
Rahngu maupun Zakat Rahngu
saling beradu pandang. Merasa
terlalu aneh dengan sosok yang
dibicarakan kedua saudara mereka.
"Apakah kalian tahu siapa
Senior itu? Mungkin kita bisa
berkunjung untuk berterima kasih,”
tanya Zakat Rahngu dengan penasaran.
Sambil menggelengkan kepala,
Mistur Rahngu menjawab, “Kami
tidak tahu. Senior itu memakai
pakaian serba hitam dan penutup
wajah. Hanya kedua matanya yang
tampak."
"Selain itu, Senior itu juga
memberi kami banyak koin emas, 
Kak. Semuanya untuk dibagikan
kepada seluruh di Keluarga Rahngu
kita," ungkap Zaleh Rahngu menimpali.
Wahyu Rahngu dan Zakat
Rahngu tertegun, menjadi semakin
aneh tentang siapa identitas
penolong keluarga mereka itu.

Bersambung ke bab 21




Posting Komentar