Sistem Terkuat ( Bab 2)
Daftar Isi
Bab 2
Saking kerasnya pukulan Wahno, pria bertato itu hampir kehilangan kesadarannya. Bola matanya berputar-putar, nyaris juling karena pusing, seolah terdapat banyak bintang yang bertebaran di sekeliling kepalanya.
"Bangsat!" teriak salah satu pria bertato lainnya, yang kemudian bergerak, menyerang Wahno dengan pukulan kuat, diikuti oleh ketiga pria yang tersisa. Namun gerakan Wahno cukup gesit, dia mampu menghidarinya dengan mudah, bahkan menghajar keempat pria bertato itu hingga babak belur. Di sisi lain, Agus tidak tinggal diam. Meskipun Wahno terlihat unggul melawan keempat preman itu, tetap ada rasa khawatir, dia segera menelpon polisi dengan ponselnya. Tepat ketika Agus selesai menelpon dan memasukkan ponsel ke saku celanannya, dia berteriak kencang, "Wahnooo! Awaaas!!'
Agus melihat pria bertato yang sebelumnya dipukul oleh Wahno hingga matanya juling, secara tiba-tiba berada di belakang Wahno,
langsung menghujamkan belati ke arah punggung. Wahno yang menyadari teriakan Agus segera menghindar, namun terlambat.
"Jleb! Jleb! Jleb!" tiga tusukan belati menembus tubuh Wahno, pemuda itu langsung jatuh tersungkur ke tanah, bersimbah darah dengan punggung yang koyak.
"Wahno!" jerit Agus, dia segera berlari menghapiri Wahno, yang saat ini sudah tidak berdaya, selaras dengan kedatangan polisi di tempat kejadian.
Dengan cepat petugas polisi bertindak, segera menangkap para pria bertato tersebut, yang mana empat di antaranya, sudah terkapar akibat dihajar oleh Wahno. Sedangkan satu orang lagi, ditembak kakinya saat itu juga karena berusaha melarikan diri. Namun sayang, nyawa Wahno tidak dapat diselamatkan. Pemuda itu tewas dalam peristiwa yang tidak terduga.
***
Di kedalaman hutan yang lebat, terdapat jurang yang sangat dalam. Hutan itu dikenal dengan nama Hutan Kematian. Nama Hutan
Kematian diberikan karena hutan itu dihuni berbagai monster yang sangat berbahaya. Tidak ada manusia yang berani mamasuki hutan tersebut. Jika pun ada yang memaksa diri untuk memasukinya, baik untuk mengambil sumber daya atau memburu binatang buas, maka besar kemungkinan tidak akan pernah kembali.
"Ah! di mana aku? Apa aku sudah mati?" ucap Wahno menoleh sekeliling, yang terlihat hanya
bebatuan tebing dan rimbunan semak belukar. Terdapat sungai kecil di dekatnya dengan air yang sangat jernih. “Uh! Haus sekali,” gumam
Wahno sembari menelan ludah, mencoba berdiri menuju ke arah sungai. “Aaargh ….. kakiku ... kenapa kakiku menjadi lebih kecil?” Wahno meringis sambil memegang kaki kirinya yang patah, dan bingung dengan ukuran kakinya yang seukuran kaki remaja lima belas tahun. Tidak ingin berpikir terlalu banyak lebih dahulu, Wahno menyeret tubuhnya ke arah sungai.
Namun tiba-tiba, sebuah suara terdengar begitu saja. System: "Ding! Selamat, Tuan. Proses pemindahan jiwa Tuan telah berhasil" “Eh?” Wahno menoleh ke kiri dan ke kanan, bahkan mendongak ke atas, mencari sumber suara yang
ada di kepalanya. System: "Ding! Selamat, Tuan. Penyatuan System dengan jiwa Tuan telah berhasil."
"Siapa di sana? Cepat keluar!" teriak Wahno dengan sikap waspada, matanya melebar penuh
awas.
System: "Ding! Saya adalah System. Keberadaan yang menyatu dengan jiwa Tuan. Dan System
disiapkan untuk membantu Tuan menjadi yang terkuat. "System? Jiwa? Menjadi yang terkuat? Apa maksudmu? Tunjukkan dirimu!" Wahno masih kebingungan sekaligus ketakutan, dengan suara system yang muncul secara tiba-tiba di kepala, membuatnya tidak dapat menerima begitu saja apa yang terdengar.
Tidak ada jawaban suara seperti sebelumnya. Tapi sebegai gantinya, muncul layar hologram berwarna biru, tepat dalam jarak satu lengan
di depan Wahno. Sontak Wahno memundurkan
badannya karena terkejut. Hal yang demikian adalah yang pertama, apalagi munculnya tak disangka-sangka.
Mengerutkan kening, memperhatikan layar hologram biru itu dengan seksama, Wahno
menjulurkan tangan kanan, mencoba untuk menyentuhnya. "Eh! Tembus," gumam Wahno.
Penasaran, ia mengibas-ngibaskan tangannya ke layar hologram, namun hasilnya tetap sama, layar itu tidak dapat disentuh laiknya benda.
System: "Ding! Yang Tuan lihat adalah layar Panel System. Hanya Tuan yang dapat melihatnya." "Sepertinya aku pernah melihat jenis layar seperti ini ... tapi di mana, ya?” gumam Wahno sambil memejamkan matanya sesekali, mencoba menggali ingatannya sendiri.
System: "Ding! Layar Panel System memang pernah Tuan lihat sebelumnya. Yakni ketika Tuan membantu ahli pembuat game di Bumi, tempat Tuan pernah bekerja dahulu." Kening Wahno semakin berkerut, teringat saat dirinya
bekerja di perusahaan game. Namun waktu itu, layar hologram di depannya ini berada di monitor komputer, bukan layar hologram
yang tampil di depan matanya, bahkan tanpa adanya alat bantu dan aliran listrik.
"Apakah kamu berada dalam tubuhku?" tanya Wahno yang masih penasaran.
System: "Ding! Tidak, Tuan. system telah menyatu dengan jiwa Tuan. Jika Tuan mati, maka System juga akan menghilang."
"System, ada di mana aku sekarang? Apakah aku sudah mati? Kenapa kamu bisa menyatu dengan
jiwaku?" rentetan pertanyaan diucapkan Wahno, yang tentu saja, saat ini masih penasaran dan kebingungan dengan keadaan yang dia alami. System: "Ding! Tuan dapat
mengetahui keberadaan Tuan dari ingatan pemilik tubuh."
"Aaargh ... sakit sekali aaargh...!” secara tiba-tiba, Wahno berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya. Pun saat itu juga, ingatan pemilik tubuh mulai membanjiri kepalanya. Dalam ingatan tersebut, pemilik tubuh dikenal dengan nama Wahna. Ia berasal dari keluarga kelas dua di Kota Ragane, sebuah kota kecil di dalam wilayah Distrik Nabrajem di Daratan Liba.
Distrik Nabrajem menguasai lima wilayah, yaitu wilayah Ragane, Yalame, Yodomen, Tantakupe, dan terakhir adalah Kota Nabrajem, kawasan yang merupakan kota besar di Distrik Nabrajem.
Dalam ingatan yang mengalir di kepalanya, Wahno juga mengetahui, bahwa pemilik tubuh
awalnya merupakan seorang jenius di lingkup keluarganya. Dalam usia sepuluh tahun, kultivasinya telah berada di tahap Kelahiran Kelima. Dan di usia tiga belas tahun, Wahna
sudah berada pada tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kedua. Akibat kecepatan Wahna dalam
mencapai tingkatan kultivasi, menimbulkan kecemburuan dari beberapa sepupu. Wahna
mendapatkan perlakuan istimewa dari patriak keluarga. Beberapa sumber daya keluarga diberikan kepada Wahna, dengan harapan dapat mempercepat laju kultivasinya. Sehingga dapat
meningkatkan citra keluarga dan mendongkrak bisnis keluarga....
Bersambung Ke Bab 3.....
Posting Komentar