Sistem Terkuat Bab 19
Daftar Isi
bandit ketika di perjalanan kembali."
"Bawa dia ke dalam dan berikan
perawatan secepatnya!" perintah
Patriak Rahngu kepada beberapa
orang pelayan.
Melihat kondisi mendesak,
Wahyu Rahngu segera mengambil
sikap, "Aku akan berangkat ke
perbatasan bersama Zakat, Ayah."
"Bawa beberapa penjaga!"
angguk Patriak Rahngu, antara
khawatir dan geram, campur aduk
di dalam pikirannya.
Begitu ayah dan paman
ketiganya berangkat ke perbatasan
Kota Ragane, Wahna menuju bukit
belakang rumahnya. Untuk
menghindari kecurigaan,
ia menyampaikan kepada ibunya,
bahwa dirinya akan berlatih.
Tiba di bukit belakang
rumahnya, Wahna menukar lima
ratus Poin System dengan kupon
undian. Pun meminta System untuk
langsung mengundinya.
System: "Ding! Selamat, Tuan. Anda belum beruntung."
System: “Ding! Selamat, Tuan. Anda mendapatkan
lima butir Mutiara Kesialan.”
System: "Ding! Selamat, Tuan. Anda belum beruntung."
System: "Ding! Selamat, Tuan. Anda mendapatkan Tehnik
Pemulihan tingkat Legendaris."
System: "Ding! Selamat, Tuan. Anda belum beruntung."
Sambil mendengar bunyi
notifikasi system, Wahna melompat
dari pohon ke pohon dengan
kecepatan penuh, hampir serupa
dengan lompatan seekor kera.
Waktu tempuh menuju ke
perbatasan dengan kecepatan ayah
Wahna, setidaknya bisa memakan waktu satu hari.
Namun berbeda dengan
Wahna, dia memiliki elemen angin
dan Tehnik Langkah Angin. Dengan
tehniknya yang berada pada level
Keempat, dia hanya membutuhkan
waktu sekitar satu jam saja.
"System, apa fungsi Mutiara
Kesialan?" sambil melompat dan
berlari terus-menerus, Wahna
meminta system menjelaskan apa
yang diperolehnya dari undian.
System: “Ding! Mutiara Kesialan berfungsi
jika diletakkan pada seseorang dan diaktifkan.
Maka orang tersebut akan
mengalami kesialan secara terus
menerus selama enam puluh detik."
"System, pelajari Tehnik
Pemulihan," pinta Wahna
melanjutkan.
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tuan telah mempelajari Tehnik
Pemulihan tingkat Legendaris.
Level saat ini adalah 0/10."
Seketika, segala pengetahuan
dan kekuatan pemulihan memasuki
otak dan tubuhnya. Membuat
Wahna sedikit terperangah atas
informasi baru yang diterimanya.
Tiba-tiba notifikasi system kembali terdengar.
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tehnik Langkah Angin telah naik
tingkat ke level Kelima."
System: "Ding! Dengan level ini,
Tuan dapat menciptakan sayap
angin untuk terbang."
Mendengar hal asing dari
notifikasi system, Wahna langsung
berhenti, berdiri di sebuah dahan
pohon yang tinggi.
Dengan pikirannya, Wahna
menggunakan elemen angin,
memadatkan sayap sebagaimana
pengetahuan yang memasuki kepalanya.
Dalam satu tarikan napas,
sepasang sayap muncul dari
punggungnya. Sayap itu berwarna
hijau terang, lebar masing-masing
mencapai dua meter ketika mengepak.
Tentu Wahna sangat gembira.
Tepat ketika situasi mendesak
Tehnik Langkah Angin yang dia
miliki, mengalami terobosan
melebihi ekspektasi.
Dengan mengepakkan kedua
sayapnya, Wahna terbang tinggi ke
angkasa. Namun cara terbang
Wahna tergolong aneh. Ia terbang
ke kanan dan ke kiri, bahkan
kadang-kadang terbang mundur.
Mirip dengan pesawat terbang yang
dikemudikan oleh pilot mabuk alkohol.
“Sialan! Ini pertama kalinya
aku terbang. Jadi belum terbiasa,"
gerutu Wahna, sedikit kesal dengan dirinya sendiri.
Setelah sempat berhenti,
Wahna kembali menyesuaikan cara
terbangnya. Tapi tiba-tiba, “Bruak!"
Entah bagaimana, sebuah
batang pohon yang cukup besar,
ditabrak begitu saja. Membuat
Wahna terjatuh dari ketinggian,
berguling-guling di tanah.
"Aduh! Aduh! Sialan!
Berengsek!" sambil mengumpat,
Wahna mengelus kepalanya sendiri.
Tidak terduga, Wahna
memuntahkan seteguk darah. Ini
adalah kali pertama bagi Wahna,
terluka di dunia yang menurutnya belum ada kejelasan.
"Tehnik Pemulihan!' seru
Wahna di dalam hati.
Dengan kecepatan yang dapat
dilihat oleh mata, luka-luka kecil
maupun luka dalam yang diderita,
pulih dengan sendirinya secara perlahan.
Tidak perlu waktu lama, sekitar
lima menit kemudian, semua luka
yang dialami Wahna sembuh secara total.
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tehnik Pemulihan telah naik
tingkat. Level saat ini 1/10."
"Eh?" Wahna tertegun sejenak.
Ia tidak menyangka, setelah
menabrak pohon dan terjatuh,
tehniknya justru mengalami
terobosan begitu diaktifkan.
Pulih dari pikirannya sendiri,
Wahna kembali terbang dengan
sayap hijaunya yang membentang.
Pada awalnya, Wahna
memperkirakan akan
membutuhkan waktu sekitar satu
jam untuk sampai ke tempat
tujuan, yakni perbatasan Kota Ragane.
Tapi dengan terbang
berkecepatan seperti yang dia alami
sekarang, hanya dalam waktu tiga
puluh menit saja untuk tiba.
Perlu diketahui, bahwa di dunia
antah berantah ini, hanya
seseorang dengan kekuatan Tahap
Prajurit Alam yang memiliki
kemampuan untuk terbang.
Itu pun harus beristirahat
sesekali waktu, setidaknya setiap
menempuh jarak satu kilo meter.
Hal ini guna memulihkan energi
tubuh yang terkuras.
Namun sangat berbeda dengan
Wahna, memiliki sayap angin yang
merupakan perubahan bentuk dari
elemen angin, ia mampu terbang
hingga seratus mil tanpa istirahat.
Tiba di lokasi yang dituju,
Wahna bersembunyi di sebuah
dahan pohon. Tidak hanya tinggi,
tempatnya berada juga tersembunyi
oleh lebatnya dedaunan.
Mengamati area sekitar, Wahna
mendapati sekitar dua ratus orang
kawanan bandit di tengah jalan.
Mereka sedang mengepung
rombongan pamannya, yang
berjumlah hanya lima puluh orang.
Dari segi kekuatan, sebagian
besar para bandit ini berada pada
Tahap Transformasi tingkat Ketiga
hingga tingkat Kesembilan.
Tapi kekuatan tertinggi berada
pada Tahap Penyempurnaan Qi
tingkat Kedelapan, sama dengan
kekuatan pamannya.
Dengan kekuatan dan jumlah
kawanan bandit sebanyak itu, jelas
rombongan pamannya sangat
kewalahan dan terdesak. Bahkan
saat ini sudah ada yang tewas.
Tanpa pikir panjang, Wahna
langsung mengganti pakaiannya
dengan warna hitam. Juga
menutupi wajahnya, yang terlihat
hanya kedua matanya saja.
Dalam situasi ini, Wahna tidak
terpikirkan akan Topeng Siluman
miliknya. Pikirannya buyar untuk
sekedar membayangkan siapa yang
akan dia tiru fisiknya. Jadi, cara
tercepat adalah dengan menutupi wajahnya.
Mengambil sepasang belati dari
ruang penyimpanan system, Wahna
melompat ke medan pertempuran,
langsung menebas dua orang bandit.
Seketika, dua orang bandit itu
jatuh bersimbah darah. Kepala
terpisah dari badan, sabetan Wahna
mengarah tepat pada leher mereka.
Tanpa menunggu lagi, Wahna
mengarah ke orang-orang
pamannya yang terdesak. Bereaksi
dan bergerak cepat,
ia melemparkan sepasang belati dari
tangannya.
"Buk! Buk! Buk! ...," lima suara
benda jatuh terdengar, bersamaan
dengan lima kepala para bandit
terlepas dari badan.
Masih tidak berhenti, setiap
kali Wahna bergerak, lima hingga
delapan bandit akan terpenggal.
Efektivitas pertempurannya sangat
luar biasa saat ini.
Menyaksikan tindakan cepat
penuh kekejaman oleh orang yang
tidak dikenal, baik pihak kawanan
bandit maupun kelompok Keluarga
Rahngu, mereka sama-sama tercengang.
Hingga detik ini, mereka belum
pernah melihat seseorang yang
bertempur dengan kecepatan dan
keganasan seperti itu, yang
menurut semua adalah kegilaan.
Namun hal ini membuat
kelompok Keluarga Rahngu
menjadi bersemangat. Harapan
kembali muncul, mereka akan
tertolong dari kawanan bandit yang
jumlahnya jauh lebih banyak.
Betapa tidak, belum sepuluh
menit sosok tak dikenal itu
bergabung dalam pertempuran,
lebih dari seratus kawanan bandit
terpenggal begitu saja.
Sebaliknya, para bandit yang
tersisa dibuat panik dan gemetar.
Bersambung ke bab 20
.jpeg)
Posting Komentar