Sistem Terkuat Bab 18
Daftar Isi
"Ayah!" sapa Wahyu Rahngu memanggil.
"Bagaimana dengan Wah---,"
belum selesai ia bicara, lelaki tua itu
menoleh dan melihat sosok Wahna
berada di belakang putra sulungnya.
Lelaki tua yang tidak lain
adalah Patriak Rahngu, yang pada
awalnya sangat cemas, seketika
digantikan dengan keheranan,
"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu
baik-baik saja? Dan ... dan kultivasimu?”
Tiga hari sebelumnya, Patriak
Rahngu mengetahui bahwa cucunya ini,
Wahna Rahngu, masih berada
pada Tahap Kelahiran tingkat Kedelapan.
Namun sekarang, tepat di
depan matanya, pemuda belia itu
sudah berada pada Tahap
Pembentukan Tubuh tingkat
Kedelapan. Ini benar-benar di luar imajinasinya.
“Aku baik-baik saja, Kakek.
Kebetulan aku mendapat
keberuntungan," jawab Wahna
sambil tersenyum, sedikit
membungkuk sebagai tanda hormat.
Seakan tidak mendengar
perkataan Wahna, Patriak Rahngu
bergegas menghampiri cucunya.
Memandangi dari ujung ke ujung,
menyentuh tangan, bahu, pipi,
hingga mengusap kepala cucu laki- lakinya itu.
Patriak Rahngu tertawa
terbahak-bahak di saat berikutnya,
diikuti air liur yang muncrat ke
mana-mana, “Hahahaha...
akhirnya... akhirnya Jenius
Keluargaku kembali."
Lelaki tua itu segera mengajak
putra dan cucunya duduk di dalam
ruang aula. Ekspresi wajahnya
sangat gembira sekaligus penasaran.
"Ceritakan pada Kakek! Apa
yang terjadi padamu!" pinta Patriak
Rahngu, yang juga adalah kakek
Wahna, ayah dari Wahyu Rahngu.
Tidak menolak, Wahna
menceritakan sebagian kecil apa
yang dia alami di dalam Hutan
Kematian. Namun tentang System,
celah batu dan tindakan
pembunuhan yang dilakukan
Keluarga Dege, tetap ia simpan di dalam hati.
"Hm, jadi kamu menemukan Pil
dan Elixir di hutan itu. Ini sungguh
keberuntunganmu, Nak.
Keberuntungan bagi Keluarga
Rahngu kita," ujar Patriak Rahngu dengan gembira.
Sebelum Patriak Rahngu akan
melanjutkan pertanyaan lain, lelaki
tua ini menoleh ke arah Wahyu
Rahngu, tertegun sejenak sebelum
bertanya, "Kamu sudah menerobos?"
"Iya, Ayah. Ini berkat Wahna
yang memberiku sebuah Elixir,"
jawab Wahyu Rahngu dengan antusias.
Patriak Rahngu terdiam, silih
berganti antara memandang Wahna
dan Wahyu Rahngu. Pikirannya
campur aduk saat ini, ada dua
situasi yang berkecamuk di saat yang sama.
Patriak Rahngu berkata setelah
menghela napas, “Wahna, mungkin
aku harus menyampaikan ini,
setidaknya kamu tidak salah paham
terhadap Kakek dan semua pamanmu."
Melihat Wahna terdiam dengan
alis terangkat, Patriak Rahngu
melanjutkan, “Paman Pertama dan
Paman Keempat, sebenarnya
selama ini selalu mendesak Kakek
untuk mengambil sebagian
penghasilan mereka sebagai tetua keluarga.
Untuk apa? Untuk diserahkan
kepada ayahmu, Nak. Namun
ayahmu menolak dengan alasan ia
merasa tidak layak menerimanya."
Mendengar ini, Wahna sedikit
menoleh ke kanan, menatap
ayahnya yang tertunduk, ada rasa
hormat yang begitu dalam di hati Wahna.
Patriak Rahngu melanjutkan
lagi, “Selain itu, keluarga kita
mengalami kemunduran dalam dua
- tiga tahun terakhir. Sehingga sulit
untuk meningkatkan jumlah
sumber daya yang berkualitas
dalam meningkatkan kekuatan keluarga kita."
"Paman Ketigamu juga sama
dengan ayahmu. Semenjak dia
mengalami kemacetan di Tahap
Penyempurnaan Qi tingkat
Keenam, Paman Ketigamu itu tidak
ingin menerima sumber daya lebih.
Alasannya sama, yakni tidak ingin
membebani keluarga," imbuh
Patriak Rahngu, kembali menghela
napas panjang.
Mendengar apa yang dikatakan
kakeknya, Wahna merasakan
kehangatan akan keluarga. Ia tidak
menyangka, bahwa pamannya yang
terlihat acuh tak acuh, ternyata
selama ini sangat menyayangi ayahnya.
Hal ini membuat Wahna
semakin bertekad bulat, kekuatan
keluarga besarnya harus segera
ditingkatkan semaksimal mungkin.
"Apakah kemunduran keluarga
kita ada kaitannya dengan Keluarga
Dege?" tanya Wahna memastikan dugaannya.
Lagi, Patriak Rahngu menarik
napas panjang sebelum menjawab,
"Tidak dapat dipungkiri, ini
memang ada kaitannya dengan
Keluarga Dege.
Selain itu, kekuatan di belakang
Keluarga Dege adalah keluarga
kelas satu. Dan menurut informasi
yang Kakek dapatkan, kekuatan di
belakang Keluarga Dege ini juga
merupakan keluarga teratas di Kerajaan."
Hening sejenak, Patriak
Rahngu menambahkan, “Apalagi
sekarang, kekuatan Patriak Dege
sudah setengah langkah lagi
menuju Tahap Prajurit Alam. Maka
kita tidak bisa berbuat apa-apa
dengan tindakan arogansi mereka."
"Bagaimana dengan Tuan Kota,
Ayah?" Wahyu Rahngu bertanya.
"Haaah... Tuan Kota juga tidak
bisa berbuat apa-apa. Jabatannya
tergantung kepada Kepala Distrik.
Meskipun mendiang ayahnya
adalah adik seperguruanku, tapi
pengaruh keluarga kelas satu di
Distrik Nabrajem sangat besar,"
ungkap Patriak Rahngu, yang lagi-
lagi mendesah tak berdaya.
Wahna menyela, "Kakek
tenanglah! Suatu hari nanti, tidak
ada lagi yang akan mengganggu
atau menindas keluarga kita."
Belum sempat Patriak Rahngu
menanggapi, Wahna mengeluarkan
sesuatu yang mengejutkan, “Kakek,
aku memiliki ini. Manfaatkan
untuk meningkatkan kekuatanmu
dalam menerobos ke Tahap Prajurit Alam."
Dua rumpun Rumput Awan
Merah dan sebuah Pil Mida Bintang
Delapan, membuat Patriak Rahngu
melebarkan mata dengan tidak
percaya, “Ini Rumput Awan Merah?
Pil Mida Bintang Delapan? Ini
sangat langka."
"Cucuku, dari mana kamu
mendapatkan harta karun ini?"
seru Patriak Rahngu dengan suara
gemetar, menatap Wahna dengan
sejuta tanya di kepala.
Wahna tersenyum dan
menjawab dengan tenang, "Sudah
aku katakan sebelumnya, aku
mendapatkan keberuntungan."
Setelah mengatakan itu, Wahna
mengeluarkan enam rumpun
Rumput Awan Merah lagi, berkata
dengan ekspresi serius, “Kakek,
berikan ini kepada para pamanku,
masing-masing dua rumpun. Dalam
waktu singkat, mereka pasti akan
menerobos ke tingkat yang lebih tinggi."
Tidak bisa tidak, mulut Patriak
Rahngu ternganga lebar, menatap
jumlah elixir langka yang
dikeluarkan Wahna dengan santainya.
Patriak Rahngu telah berusia
sekitar dua ratus tahun, namun
hingga detik ini, dia belum pernah
menggunakan elixir langka seperti
yang ada di depan matanya.
Melihat bahwa semua benda
langka itu adalah untuk
keluarganya, yang diberikan oleh
cucunya sendiri, Patriak Rahngu
gemetar. Mata tuanya memerah,
menatap Wahna dengan rasa terima
kasih yang tak terkira.
"Wahna, terima kasih. Terima
kasih, Cucuku," kata Patriak
Rahngu, air matanya mengalir begitu saja.
Wahyu Rahngu menyela
dengan peringatan, "Ayah, jangan
sampai hal ini tersebar keluar.
Cukup kita yang tahu."
"Aku mengerti," sahut Patriak
Rahngu dengan sungguh-sungguh.
Sangat dipahami oleh Patriak
Rahngu, bahwa jika hal ini sampai
diketahui oleh pihak lain di luar
sana, maka bisa menyebabkan
bencana bagi keluarganya.
"Patriak, kabar buruk!
Rombongan Tuan Mistur diserang
bandit," lapor seorang penjaga
dengan tergesa-gesa.
Sontak suasana menjadi hening dan tegang.
"Apa? Dari mana kamu tahu?"
teriak Patriak Rahngu terkejut.
Dengan cepat penjaga itu
menjawab, "Salah satu penjaga yang
bersama Tuan Mistur ada di depan,
Patriak. Dan dia terluka parah."
Patriak Rahngu, Wahyu
Rahngu dan Wahna, segera
bergegas ke luar aula menuju
gerbang keluarga. Mendapati
seorang pria berusia sekitar tiga
puluh lima tahun, berlumuran
darah dan sedang dibantu oleh pelayan keluarga.
Melihat kehadiran Patriak
Rahngu, pria berlumur darah itu
melapor dengan terbata-bata,
"Patriak, Tuan Mistur sedang
bertarung di perbatasan Kota
Ragane. Kami disergap kawanan
Bersambung ke Bab 19
.jpeg)
Posting Komentar