Sistem Terkuat Bab 14

Daftar Isi
 
Bab 14 

"Tanpa sengaja? Tanpa sengaja
bagaimana?" desak Wahyu Rahngu,
masih sulit mempercayai perkataan putranya itu.
Wahna masih tersenyum,
berkata lain untuk mengalihkan
pembicaraan, “Ayah, Ibu, aku juga
berburu beberapa binatang buas.
Bahan-bahan yang berharga sudah
aku jual. Sebagian dagingnya aku
bawa pulang untuk persediaan di keluarga."
"Ayo! Hari ini kita makan
daging. Kebetulan aku mendapat
daging rusa yang istimewa," imbuh
Wahna sembari menoleh ke arah
adik perempuannya. "Benarkah? Horeee... 
kita makan daging ...," teriak Dira dengan gembira.
Wahna mengeluarkan daging
Rusa Tanduk Tunggal. Daging rusa
ini mengandung energi alam yang
cukup melimpah. Dapat
memperkuat tubuh dan
memperlancar peredaran darah.
"Kamu mendapat daging Rusa
Tanduk Tunggal sebanyak ini?”
seru Wahyu Rahngu dengan takjub.
Rimo juga bertanya dengan
penasaran, “Tuan Muda, apakah
Tuan Muda masuk ke area
Pinggiran Perbatasan?"
Pasalnya, semua orang tahu,
bahwa binatang buas Rusa Tanduk
Tunggal tidak ditemukan
keberadaannya di area Pinggiran
Dalam. Melainkan di area Pinggiran 
Perbatasan, kawasan yang lebih
dalam dari Hutan Kematian. Wahna tersenyum
mengangguk dan menanggapi,
"Hanya kebetulan masuk sedikit."
Mendengar jawaban Wahna,
Rimo terdiam, Ayudiah
mengerjapkan mata, Wahyu Rahngu tercengang.

****
Segera semua orang sibuk
dengan kegiatan mempersiapkan makan malam.
Melihat ibunya sibuk menyiapkan bumbu yang
dibutuhkan, Wahna
menghampirinya di ruang dapur.
"Bu, mulai sekarang, Ibu tidak boleh lagi
bekerja keliling seperti sebelumnya,
Aku berburu banyak binatang buas,
beberapa koin emas yang aku peroleh,
aku rasa cukup untuk kebutuhan ibu dan dira,"
ujar wahna sambil mengeluarkan sekantung koin emas 
dari tas ruang.
"Hei! Banyak sekali!" seru Ayudiah dengan takjub,
Menatap koin emas dan wajah Wahna Secara bergantian.
"Lumayan, aku punya cara untuk menjebak
beberapa binantang buas, sehingga hasil buruannya
cukup memuaskan," jelas Wahna sambil menyerahakan
kion emas itu kepada Ibunya.
"Tapi..." Sebelum Ayudiah menyelesaikan kalimatnya,  
Wahna langsung menyela, "tidak ada tapi,
Bu! Ibu adalah ibuku, bukan ibu
orang lain. Tidak boleh ada yang
merendahkan Ibu mulai hari ini.
Ibu percaya padaku?”
Melihat tatapan tegas putranya,
tanpa sadar, bulir air mata
mengalir di pipi Ayudiah. Wanita
paruh baya ini langsung memeluk
Wahna dengan erat. "Ibu percaya!
Ibu sangat percaya! Terima kasih,
Nak! Terima kasih.”
"Ibu adalah segalanya bagiku,"
bisik Wahna dengan gigi terkatup,
ada penekanan dari setiap kata yang terlontar.
*
Melihat Wahna mendekat ke
tempat pemanggangan daging, Dira
Rahngu beranjak. Gadis kecil ini
menarik tangan kakaknya,
berceloteh riang bak burung yang
berkicau di pagi hari.
*
Selang beberapa saat, semua
hidangan telah siap di meja makan.
Semua orang duduk di meja yang
sama, termasuk dengan Rimo.
Meskipun seorang pelayan,
Rimo bukanlah orang lain bagi
Wahyu Rahngu sekeluarga. Pria ini
sudah dianggap sebagai keluarga
sendiri, tidak ada perbedaan
perlakuan terhadapnya.
Selesai santap malam, Wahna
berkata kepada ayahnya, “Ayah, aku
masih memiliki Rumput Awan
Merah, dua rumpun ini untukmu."
"Mungkin Ayah bisa menerobos
ke Penyempurnaan Qi tingkat
Ketujuh," mengatakan itu, Wahna
mengeluarkan dua rumpun Rumput
Awan Merah dan meletakkannya di atas meja.
Semua orang memandang
takjub. Wahyu Rahngu tidak bisa
tidak berseru, "Wahna, kamu
benar-benar menemukan harta
karun! Jika dijual, ini harganya bisa
ribuan koin emas."
"Ayah, jangan menjualnya!
Serap elixir ini untuk kultivasi
Ayah! Aku sudah memberi Ibu koin
emas untuk kebutuhan kita,"
sanggah Wahna atas ucapan ayahnya.
Wahyu Rahngu terdiam, 
menoleh ke arah Ayudiah, dan
mendapati Ayudiah
menganggukkan kepala, sebagai
konfirmasi atas apa yang dikatakan Wahna.
Mengeluarkan dua rumpun
Rumput Awan Merah lagi, Wahna
kembali berkata, “Ini masih ada
dua, untuk Ibu satu rumpun, dan
untuk Paman Rimo satu rumpun."
Sebelum ada tanggapan,
Wahna sudah mengeluarkan
sekantung koin emas dari tas
ruangnya, dan menyerahkannya
kepada Rimo, "Paman, ini untuk
Paman dan keluarga, semoga bisa
membantu kebutuhan Paman."
Rimo terdiam tercengang
untuk beberapa saat. Rimo 
berusaha menolak, “Tuan Muda,
saya tidak berani. Ini terlalu banyak---"
"Paman adalah keluargaku
juga," sela Wahna memutus
perkataan Rimo, lantas
melanjutkan, “kebetulan aku
mendapat hasil buruan yang cukup
bagus dalam dua hari terakhir. Jadi,
hasil yang aku peroleh, pastilah
untuk keluargaku”.
Rimo menelan ludah dengan
tidak percaya. Menoleh ke arah
Wahyu Rahngu, yang kini tampak
menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Melihat respon ini, Rimo
bangkit dari duduknya, berdiri dan
hendak berlutut, namun di tahan 
oleh Wahna, “Paman, Paman
adalah pamanku. Orang yang selalu
hadir untuk ayahku, untuk ibuku,
dan juga untuk adikku dalam
kondisi apa pun."
"Paman bukanlah orang lain
bagiku. Status pelayan hanyalah
sebuah status dalam pekerjaan. Dan
itu tidak berarti Paman harus
berlutut kepada yang lebih muda
sepertiku," imbuh Wahna,
membuat suasana semakin hening.
Wahyu Rahngu dan Ayudiah
saling memandang. Mereka merasa
bahwa putranya jauh lebih dewasa
dari sebelumnya. Bahkan ketika
berucap, sikapnya selalu tenang dan meyakinkan.
‘Dia putraku, dia adalah 
putraku, Wahna adalah putraku,'
gumam Ayudiah di dalam hati,
merasa bangga terhadap putranya
itu. Tanpa disadari, apa yang
dipikirkan Ayudiah, adalah senada
dengan apa yang dipikirkan oleh
Wahyu Rahngu.
"Terima kasih, Tuan Muda,"
sahut Rimo dengan anggukan tulus.
"Kakak, semua mendapat
hadiah. Lalu, bagaimana
denganku?" protes Dira Rahngu
dengan menggembungkan kedua pipinya.
"Oh, iya! Kakak lupa!" kelakar
Wahna dengan menepuk dahinya
sendiri, seolah telah melupakan sesuatu.
“Kakak!” sahut Dira Rahngu 
dengan sangat kesal, kedua pipinya
semakin menggembung, membuat
semua orang tertawa melihat
tingkah lucu gadis kecil itu.
"ini! Setelah menyerap satu,
konsolidasikan dulu dan berlatih.
Jika kultivasimu sudah stabil, serap
yang kedua, ulangi langkah
pertama dan serap yang ketiga,
keempat dan kelima," bersamaan
dengan ucapannya, Wahna
mengeluarkan lima Daun Tumpang
Lawang kepada adiknya.
Semua orang yang hadir
kembali terkejut, jenis tanaman
obat yang dikeluarkan oleh Wahna
saat ini juga tergolong langka.
Meskipun mereka membobol
rumah harta karun sebuah distrik, 
atau bahkan Kerajaan Liba
sekalipun, tidak mungkin akan
menemukan tanaman obat yang
dikeluarkan Wahna..
Keberuntungan macam apa
yang telah diperoleh putranya?
Itulah pertanyaan yang berputar di
kepala Ayudiah dan Wahyu Rahngu.
"Ingat! Jangan beri tahu siapa
pun tentang tanaman obat ini! Nanti
akan menjadi masalah," peringat
Wahna kepada semua orang.
Semua orang mengangguk 
setuju, termasuk dengan Dira
Rahngu. Tetapi gadis kecil ini
langsung bergerak, menyambar
tanaman obat yang masih berada di
tangan kakaknya.
Mencium pipi kiri kakaknya itu
sebentar, Dira Rahngu berlari kecil
menuju kamarnya seraya berteriak,
"Terima kasih, Kak! Aku sayang Kakak."

Bersambung ke bab 15

Posting Komentar