Sistem Terkuat Bab 13

Daftar Isi
 

Bab 13 

Melihat punggung Wahna yang
berlalu pergi, berbagai praduga
muncul di benak pria paruh baya
itu, bergumam lirih," Bocah yang
luar biasa. Tehnik apa yang
digunakan untuk berburu? Semua
binatang buas hasil buruannya,
sangat jelas lebih jauh di atas kultivasinya."
"Apalagi terdapat dua belas
monster itu. Apakah Bocah ini
dibantu oleh orang lain?" duga pria
paruh baya, masih tetap menatap
punggung Wahna yang semakin
menghilang dari pandangan,
bergeming dari tempatnya.
***
Di perjalanan, banyak pasang
mata yang menatap ke arah Wahna.
Sebagian besar penuh tanya, tidak
sedikit pula yang heran, terkejut dan takjub.
"Bukankah itu Wahna Rahngu?
Bukankah berita yang beredar
menyebutkan dia diterkam binatang
buas?" lontar seorang pejalan kaki
begitu melihat sosok Wahna.
"Hei! Dia sudah berada pada
Tahap Pembentukan Tubuh tingkat
Kelima! Siapa yang bilang Tuan
Muda Wahna masih berada pada
tahap Kelahiran?" pejalan kaki yang
lain juga melontarkan seruan
tanya.
Mendengar dan melihat bisik-
bisik yang dilontarkan para pejalan
kaki terhadapnya, Wahna tidak
menanggapi. Ia terus 
melangkahkan kakinya, tenang dan
santai, tujuannya adalah pulang.
*
Sesampainya di pintu gerbang
Keluarga Rahngu, dua orang
penjaga langsung terkejut.
"Tuan Muda, Anda kembali.
Tuan dan Nyonya sangat
mencemaskan Tuan Muda," sapa
seorang penjaga.
Tidak ada tanggapan dari
Wahna, dia hanya tersenyum.
Memberi para penjaga itu satu koin
emas untuk masing-masing, “Ini untukmu."
"Terima kasih, Tuan Muda.
Terima kasih," ucap dua penjaga
penuh syukur, saling memandang 
satu sama lain, menatap punggung
Wahna yang meninggalkan pintu
gerbang ke dalam pekarangan.
Bagaimana tidak, satu koin
emas itu sama dengan seratus koin
perak. Sedangkan upah mereka
dalam satu bulan hanyalah sepuluh koin perak.
Dengan satu koin emas, dapat
menghidupi keluarga kecil mereka
selama sepuluh bulan. Tanpa
disadari, kedua penjaga ini diam-
diam menetapkan hati, untuk selalu
setia kepada Wahna dan keluarganya.
*
Wahna langsung menuju
rumahnya yang sederhana.
Semenjak ayahnya tidak lagi 
menjabat sebagai Tetua di Keluarga
Rahngu, mereka tidak lagi
menggunakan fasilitas tertentu di
lingkup keluarga.
Tiba di depan pintu, Wahna
melihat ibunya, yang saat ini
tampak duduk di sebuah kursi
sambil menangis. Dira Rahngu,
adik perempuan Wahna, juga
terlihat terisak di sebelah ibunya.
Hanya Rimo yang terdiam
menunduk sedih, berdiri tidak jauh
di belakang ibu dan adiknya.
Merasa ada seseorang di depan
pintu, Rimo menegakkan kepala.
Kebetulan posisi Rimo tepat
menghadap pintu, "Nyonya! Tuan
Muda Wah...."
Sebelum kalimat Rimo selesai, 
tangisan ibu dan adik perempuan
Wahna semakin jelas terdengar,
membuat Rimo tidak melanjutkan ucapannya.
"Ibu! Dira!" Mendengar suara seseorang
yang akrab memanggil keduanya,
ibu dan gadis kecil itu langsung
terdiam dari tangisnya. Serentak
dan serempak, keduanya menoleh
ke arah pintu.
Mendapati siapa sosok yang
berdiri di depan pintu, Ayudiah
bangkit, berlari ke arah Wahna,
memeluk putranya itu erat-erat,
tangisnya semakin menjadi, “Kam-
kam- Kamu hidup! Kamu hidup, Nak!"
“Kami mengkhawatirkanmu, 
Kak!" sambung Dira Rahngu, pun
memeluk erat kakak tercintanya itu,
membenamkan wajahnya ke tubuh Wahna.
“Ibu ... Dira ... aku sudah
kembali dan sehat. Tidak ada terjadi
padaku," Wahna menanggapi
sambil tersenyum, memeluk balas
ibu dan adik perempuannya.
Entah mengapa, ada perasaan
hangat di hati Wahna. Bahkan, ia
semakin bertekad untuk
menaklukkan dunia di bawah kaki ibunya.
"Ibu, di mana Ayah?" tanya
Wahna kemudian, mengganti topik
agar tidak berlanjut dalam kesedihan.
Tidak menunda, Ayudiah 
menggandeng lengan Wahna ke
kamar ayahnya. Berkata dengan
sedikit terisak, "Ayahmu masih
terbaring, Nak. Ibu sudah
memberinya obat yang sesuai, tapi
belum menunjukkan hasil.”
"Ibu membelinya?" tanya
Wahna terkejut. Pasalnya, dia tahu
bahwa ayah dan ibunya tidak
memiliki uang yang cukup untuk membeli obat.
"Kakekmu memberi Ibu
sepuluh koin emas untuk membeli
tanaman obat," ungkap Ayudiah.
"Dari mana saja kau! Masih
ingat pulang!” ayah Wahna
berteriak dengan marah, tapi air
matanya mengalir deras. Ia
berusaha bersikap tegas, namun
hatinya tidak mampu menutupi
kekhawatirannya selama dua hari terakhir.
Melihat air mata di wajah
ayahnya, Wahna tersenyum.
Namun di saat yang sama, matanya
sudah memerah, ia merasa dirinya
telah memiliki keluarga kembali.
Tidak seperti di kehidupan 
sebelumnya, kasih sayang keluarga
yang Wahna rasakan terlalu
singkat. Sang Pencipta telah
berencana, dia hanya bisa
menerima dan menjalaninya.
"Ayah, aku mendapatkan
Rumput Awan Merah di Hutan
kematian. Gunakan ini untuk
menyembuhkan cedera Ayah!"
mengatakan itu, Wahna 
mengeluarkan satu rumpun
Rumput Awan Merah, dan
menyerahkannya kepada ibunya.
Menyeka air mata, Wahyu
Rahngu membelalak dan berseru
heran, “Kamu mendapatkan
tanaman obat ini? Tanaman ini
sangat langka, Wahna! Bahkan di
Daratan Liba, sangat sulit
menemukan Rumput Awan Merah.
Ini bukan tanaman obat biasa."
Bukan hanya Wahyu Rahngu
yang terkejut, begitu juga dengan
Ayudiah dan Rimo, semua orang
dibuat terkesima.
"Ayo, Bu! Cepat jadikan sup dan
berikan kepada Ayah!" pinta Wahna
mengalihkan pembicaraan,
mengutamakan yang lebih prioritas.
Ayudiah terbangun dari
keterkejutannya, meraih Rumput
Awan Merah dari tangan Wahna,
bergegas ke ruang dapur untuk
menyiapkan segala sesuatunya.
*
Beberapa saat kemudian,
Ayudiah kembali dengan
semangkuk sup di tangannya, “Ayo
minum selagi hangat!"
Dibantu oleh Wahna, Wahyu
Rahngu meminum semangkuk sup
itu sedikit demi sedikit. Tidak ada
yang terjadi hingga sup habis.
Tapi pada saat ini, cahaya
keemasan samar muncul dari
seluruh pori-pori dada Wahyu 
Rahngu. Semakin lama cahaya itu
semakin meluas, menyebar hingga
ke seluruh tubuh.
Wahyu Rahngu memuntahkan
darah berwarna hitam di saat
berikutnya. Tetapi setelahnya, pria
ini mengambil posisi duduk tegak
dengan mata terpejam, yang
bahkan tanpa adanya bantuan dari
Wahna maupun dari orang di
sekitarnya.
Menarik napas dalam-dalam,
Wahyu Rahngu membuka matanya.
Menoleh ke arah Wahna tanpa
mengucapkan sepatah kata apa pun.
Hening sejenak, Wahyu
Rahngu memeluk putranya erat-
erat, "Terima kasih, Nak. Terima
kasih. Ini semua karenamu." 
Suasana haru menjadi kesan
tersendiri di keluarga kecil itu.
Ayudiah, Dira Rahngu, bahkan
Rimo, juga meneteskan air mata
melihat adegan di depan mata mereka.
Wahna tersenyum dan berkata,
"Ayah, tidak perlu mengucapkan
terima kasih. Ini sudah menjadi
kewajibanku untuk orang tuanya."
Wahyu Rahngu terdiam,
menegakkan kepala, menatap
putranya itu dengan penuh
perhatian. Tidak disangka,
putranya telah memiliki pikiran
yang jauh lebih dewasa dari usianya.
Di tengah pikiran bingung
sekaligus gembira, Wahyu Rahngu 
membelalakkan mata dan berseru,
"Wahna! Kultivasimu! Bagaimana
bisa kamu sudah menembus
Pembentukan Tubuh tingkat
Kelima dalam dua hari? Bukankah
sebelumnya berada pada Tahap
Kelahiran tingkat Kedelapan?"
Baik Ayudiah maupun Rimo,
juga sangat terkejut saat ini. Mereka
baru menyadari, bahwa kultivasi
Wahna telah mengalami
peningkatan yang luar biasa.
"Hahahaha ...," Wahna tertawa
riang, memberikan jawaban yang
menurutnya bisa meyakinkan, “itu
karena Rumput Awan Merah.
Kekuatanku kembali ke Tahap
Pembentukan Tubuh tingkat Kedua.
Dan tanpa sengaja menerobos ke
tingkat Kelima."


Bersambung ke bab 14



Posting Komentar