Sistem Terkuat Bab 12
Daftar Isi
Bab 12
Mendapati bahwa energi
mentalnya bertambah menjadi dua
belas, Wahna tersenyum puas. Ini
merupakan peningkatan yang luar
biasa menurutnya.
Wahna segera beranjak dari
sungai dan mengenakan kembali
pakaiannya. Mengumpulkan bagian
tertentu dari tubuh kawanan
monster, menyimpannya ke dalam tas ruang.
Adalah sengaja Wahna tidak
memasukkan bagian tubuh monster
itu ke dalam ruang penyimpanan
system. Keberadaan system adalah
rahasianya, privasi yang tidak boleh
diketahui oleh siapa pun juga.
Jika tidak, Wahna berasumsi
kuat, maka dirinya akan diburu oleh
orang-orang kuat yang tamak.
Bahkan dibunuh hingga dimutilasi
untuk mengetahui dan mengambil
system dari dirinya.
Berdiri di depan celah batu,
Wahna mulai melakukan gerakan
yang sangat rumit. Jari-jari
tangannya meliuk ke berbagai arah,
sangat sulit untuk dimengerti oleh
orang awam.
Apa yang Wahna lakukan
adalah proses dalam membuat
formasi array. Formasi array ini
sangat jauh berbeda dengan
kebanyakan formasi array yang ada
di Daratan Liba.
Bahkan, kemampuan sekelas
Grand Master Array akan sulit
mengenali atau memecahkannya.
Pengetahuan formasi array ini
merupakan Tehnik Array Kuno,
yang keberadaannya sudah
dianggap hilang dari dunia ini.
"Array ilusi!" teriak lirih
Wahna, seraya menggerakkan
ujung jari telunjuknya,
melemparkan seberkas cahaya biru
keunguan ke arah pintu celah batu.
Seketika, pintu celah batu itu
seakan menghilang. Tidak lagi
nampak oleh mata telanjang, yang
seolah-olah, batu itu adalah
sebongkah batu yang utuh.
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Level Array Master telah naik
tingkat. Level saat ini adalah 1/10."
Mengabaikan notifikasi yang
berdering di benaknya, Wahna
berjalan ke seberang sungai. Arah
itu adalah arah menuju ke luar dari
Hutan Kematian. Wahna ingin
segera pulang, ayahnya sangat
membutuhkan tanaman obat yang diperolehnya.
Selain itu, dari ingatan pemilik
tubuh, Wahna sudah terlalu lama
berada di dalam Hutan Kematian.
Dia tidak ingin orang tuanya terlalu
khawatir berlebihan, sehingga
melakukan hal-hal yang tak terduga.
Berdiri di depan dinding tebing,
Wahna mendongakkan kepala.
Meskipun terlalu tinggi baginya, ia
melihat ada banyak akar pohon
yang dapat diraih ketika memanjatnya.
Dan sungguh tidak disangka
oleh Wahna, dengan menggunakan
Tehnik Langkah Angin, adalah
cukup mudah memanjat tebing
yang tinggi nan terjal itu. Dan tidak
butuh waktu lama, dia sudah
berada di atas tebing.
Dalam perjalanan kembali,
Wahna dipastikan bertemu
berbagai binatang buas. Tentunya
dapat ia tangani dengan mudah,
kawanan binatang buas itu
tergolong lemah.
Selain bagian berharga dari
binatang buas yang dibunuhnya,
Wahna juga mendapat berbagai
tanaman obat. Dan mungkin akan
sangat berguna untuk orang tuanya,
atau dapat ia tukarkan menjadi Poin System.
*
Berlalunya waktu, begitu
sampai di kawasan pinggiran luar
Hutan Kematian, kultivasi Wahna
mengalami peningkatan. Saat ini
telah mencapai Transformasi
tingkat Keenam.
Di samping kultivasi yang
meningkat, berbagai tehnik juga
mengalami terobosan yang
signifikan. Tentu saja hal ini sangat
menggembirakan bagi Wahna.
Tepat ketika posisinya sangat
dekat dengan tepi hutan, Wahna
mengaktifkan Tehnik Pernapasan.
Menyembunyikan tingkatan
kultivasinya, yang sejatinya adalah
Tahap Transformasi tingkat
Keenam, terbaca Tahap
Pembentukan Tubuh tingkat Kelima.
Sangat beralasan bagi Wahna
melakukannya. Jika tidak, maka
akan terjadi kegemparan di seluruh
Kota Ragane, yang bahkan
menyebar ke seluruh Daratan Liba.
Dengan menyembunyikan
kultivasi sampai Tahap
Pembentukan Tubuh tingkat
Kelima saja, sebenarnya akan
membuat kegaduhan di Kota Ragane.
Bagaimana pun, dalam waktu
hanya dua hari, Wahna telah
menembus dari Tahap Kelahiran
tingkat Kedelapan, langsung ke
Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kelima.
Enam tingkat dalam dua hari,
adalah sesuatu yang tidak mungkin
dilakukan oleh siapa pun dan sejenius apa pun.
Namun Wahna telah
menemukan alasan yang masuk
akal, jika nanti orang tuanya
bertanya kepadanya tentang
bagaimana peningkatan kekuatannya.
Melihat matahari sudah
condong ke barat, yang
menunjukkan hari sudah sore,
Wahna langsung menuju ke Kota
Ragane. Ia singgah ke sebuah kios kecil,
tempat yang membeli bahan
berharga dari binatang buas atau monster.
Tiba di serambi kios, Wahna
melihat seorang pria paruh baya di
dekat pintu. Pria itu memejamkan
mata, duduk seraya menyandarkan
punggungnya pada sandaran kursi.
"Permisi, Paman. Saya mau
menjual bahan dari binatang buas
dan monster," Wahna segera
mengutarakan tujuannya.
"Oh, sini! Bawa ke sini! Aku
ingin melihatnya," sahut pria paruh
baya itu dengan malas.
Pria paruh baya itu berpikir,
bahwa bocah usia lima belas tahun
dengan kultivasi Pembentukan
Tubuh Tingkat Kelima, paling
banter hanya untuk beberapa puluh
koin perak atau satu koin emas
paling banyak.
"Di sini, Paman?" tanya Wahna
dengan ragu-ragu. Karena
biasanya, tempat untuk meletakkan
bahan-bahan dari binatang buas
atau monster adalah di ruangan
bagian dalam. Namun ini justru di
serambi kios, yang tentunya akan
dapat dilihat oleh semua pengunjung.
"Iya, di sini!" sahut pria paruh
baya itu dengan acuh tak acuh.
Wahna mengangkat kedua
bahu tanpa daya. Dan tanpa
mengucapkan kata apa pun lagi, ia
langsung mengeluarkan seluruh
hasil buruannya di tempat.
Seketika, tumpukan bahan dari
binatang buas dan monster tumpah
ruah, menggunung di atas lantai serambi kios.
Masih dengan nada malas, pria
paruh baya itu berkata, "Oh, bahan
monster dan---"
Begitu menyadari apa yang ada
di hadapannya, pria paruh baya itu
tidak menyelesaikan kalimatnya.
Matanya membelalak dengan kaget,
seakan dirinya sedang berhalusinasi.
Secara bergantian dan
berulang, antara hasil buruan
dengan wajah Wahna, pria paruh
baya ini menatap Wahna dengan
tidak percaya.
Begitu juga dengan beberapa
orang pengunjung yang sedang
mencari sesuatu di kios itu. Rahang
mereka jatuh, bahkan saking
lebarnya, mungkin lima telur ayam
dapat langsung masuk ke mulut mereka.
"Da-, da-, dari mana kamu
mendapat hasil buruan ini?” tanya
pria baya itu dengan gugup karena terkejut.
"Dari Hutan Kematian," jawab
Wahna singkat dan apa adanya.
"Cepat masukkan kembali! Kita
hitung di dalam!" pinta pria paruh
baya itu, cepat dan kali ini sangat
sopan. Sikapnya berubah seratus
delapan puluh derajat dari yang pertama.
Setelah dilakukan perhitungan,
pria paruh baya itu menyampaikan,
"Setelah dihitung, semuanya dua
puluh ribu koin emas. Bagaimana,
Teman Kecil?"
"Baik," angguk Wahna setuju,
lantas mengambil setumpuk koin
emas dan memasukkannya ke dalam tas ruang.
"Teman Kecil, jika kamu
berburu lagi, jangan sungkan untuk
datang ke kiosku. Aku akan
memperhatikan harga untuk
Teman Kecil," ucap pria paruh baya
itu dengan antusias.
“Baiklah. Terima kasih,
Paman," sahut Wahna sambil
sedikit membungkukkan badan,
tanda hormat kepada yang lebih tua.
Bersambung ke bab 13
Posting Komentar