Sistem Terkuat Bab 10
Daftar Isi
Bab 10
Keluarga Rahngu
Hari sudah menjelang pagi,
namun Wahna belum juga kembali.
Hal ini membuat Ayudiah semakin
cemas akan keselamatan putranya itu.
Apalagi Rimo juga tidak
menemukan keberadaan Wahna di
pinggiran Hutan Kematian, bahkan
di area Pinggiran Dalam, membuat
kekhawatiran Ayudiah terus meninggi.
Pagi hari, Ayudiah bergegas ke
kediaman ayah mertuanya. Wanita
paruh baya ini bermaksud memberi
tahu situasi putranya saat ini.
"Ayah, Wahna belum kembali
dari Hutan Kematian," ungkap
Ayudiah begitu tiba, suaranya
sedikit serak dengan nada agak terisak.
"Apa? Kapan Wahna pergi ke Hutan Kematian?
Kenapa dibiarkan pergi sendiri?"
tanya kakek Wahna, terkejut mendengar pernyataan
Ayudiah yang menangis.
"Wahna mencari Rumput Awan
untuk cedera Wahyu. Kami tidak
memiliki cukup koin emas untuk
membelinya, Ayah," papar Ayudiah,
isaknya kian meningkat ketika
melanjutkan perkataannya, “jadi...
tanpa sepengetahuanku, Wahna
pergi ke Pinggiran Hutan Kematian
untuk mendapatkannya. Maafkan aku, Ayah."
Mendengar apa yang
disampaikan oleh menantu
perempuannya, kakek Wahna jatuh
terduduk di kursinya.
Lelaki tua ini benar-benar
terkejut sekaligus merasa bersalah,
perhatiannya mulai berkurang
kepada cucunya itu.
Hal ini juga bukan tanpa alasan.
Semenjak meridian Wahna
mengalami penyumbatan yang
tidak diketahui, usaha Keluarga
Rahngu juga mulai menurun.
Usaha utama Keluarga Rahngu
berbasis pada obat-obatan dan
bambu. Ada juga sebagian usaha
dari penjualan kayu bermutu dan
berbagai bahan lainnya.
Namun dampak dari tersiarnya
berita bahwa Wahna tidak mampu
lagi berkultivasi, telah mengakibatkan
pelanggan beralih ke pengusaha lain.
Bahkan ada rumor yang
beredar, mengaitkan kesialan jika
berbisnis dengan keluarga yang sial.
Membuat reputasi Keluarga
Rahngu jatuh hingga ke titik terendah.
Menarik napas panjang, kakek
Wahna menyerahkan sejumlah
koin emas, "Tenanglah! Ini Koin
Emas untuk membeli obat bagi
suamimu. Jangan sebutkan hal ini
kepada saudaramu yang lain agar
tidak ada kecemburuan."
Sebelum Ayudiah menyela,
kakek Wahna menambahkan,
"Siang ini Nisan dan yang lainnya
kembali dari kota, mereka akan
mencari Wahna di pinggiran Hutan
Kematian. Hari ini aku harus
bertemu dengan Tuan Kota, dan
tidak mungkin bagiku untuk mengabaikannya."
"Iya, Ayah. Aku mengerti,"
jawab Ayudiah, menggenggam
rapat-rapat koin emas yang diterimanya.
Tidak menunda waktu,
Ayudiah bergegas menuju toko obat
untuk membeli ramuan yang
diperlukan suaminya, Wahyu Rahngu.
*
Tidak lama kemudian, dalam
perjalanan kembali dari toko obat,
Ayudiah mendengar perbincangan
para pejalan kaki.
“Apakah kamu sudah
mendengar bahwa Wahna Rahngu
sudah mati?” ucap seorang pejalan
kaki paruh baya kepada rekan di sebelahnya.
“Dari mana kamu mendengarnya?"
sahut rekan paruh baya itu.
"Berita itu sudah menyebar.
Menurut berita yang beredar,
Wahna Rahngu diterkam binatang
buas, dan mayatnya dicabik-cabik
oleh binatang itu,” jawab si pria
paruh baya menekankan, seolah
dirinya mengetahui peristiwa itu
dengan mata kepalanya sendiri.
"Jangan mengada-ada! Kita
tidak tahu kejadian yang
sebenarnya,” sanggah rekan si pria paruh baya.
Perbincangan di tengah jalan
itu membuat Ayudiah semakin
khawatir. Wanita anggun ini tidak
lagi berjalan, tetapi berlari kembali rumahnya.
"Ayah, berita yang disampaikan
Rimo kemarin sudah jadi
perbincangan orang banyak. Aku
takut ... aku takut ...,” tak kuasa
melanjutkan kata-katanya, Ayudiah
langsung menangis di samping suaminya.
"Bu... Wahna anak yang cerdas.
Tidak mungkin anak itu melakukan
tindakan gegabah. Apalagi melawan
binatang buas yang bukan
tandingannya. Kamu ibunya, pasti
lebih tahu bagaimana Wahna,
bukan!” sahut Wahyu Rahngu
sembari memegang tangan
Ayudiah, mencoba menenangkan
kekhawatiran istrinya.
Padahal di dalam hati, Wahyu
Rahngu juga sangat khawatir akan
keselamatan putranya itu. Namun
pria ini menahannya sedemikian
rupa, tidak menampakkannya di permukaan.
Mencoba terus menenangkan
diri dari rasa was-was, Ayudiah
mengangguk dan menyeka air
matanya. Ia memberi tahu
suaminya tentang apa yang
disampaikan oleh kakek Wahna.
***
Keluarga Dege
"Hahahaha ... biarkan semua
orang tahu bahwa Wahna telah
dimakan binatang buas. Biarkan
Keluarga Rahngu semakin
terpuruk, lalu kita akan
menawarkan bantuan dengan
jaminan yang tinggi," ujar Rakuti
Dege, tertawa sinis di depan para
tetua keluarga.
Rakuti Dege adalah Patriak dari
Keluarga Dege. Kekuatannya setara
dengan kakek Wahna, yakni pada
Tahap Penyempurnaan Roh tingkat
Kesembilan Puncak, selangkah lagi
menuju Tahap Prajurit Alam.
"Baimu, kamu benar-benar
bekerja dengan baik kali ini. Kakek
akan memberimu hadiah nanti,"
sanjung Patriak Dege kepada
cucunya, Baimu Dege.
"Terima kasih, Kakek. Ini
semua karena rencana Kakek yang
luar biasa," sahut Baimu Dege
dengan gembira, menerima hadiah
dan juga mendapat sanjungan
langsung dari Patriak di depan
semua tetua keluarga, adalah
sesuatu yang luar biasa menurutnya.
***
Hutan Kematian
Setelah istirahat, Wahna
melihat Poin Pengalamannya sudah
mencapai dua ratus lebih. Segera ia
meminta System untuk
meningkatkan kultivasinya.
System: “Ding! Selamat, Tuan.
Kultivasi Tuan telah naik level.
Level saat ini adalah Tahap
Pembentukan Tubuh tingkat Kedelapan ...."
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Kultivasi Tuan telah naik level.
Level saat ini adalah Tahap
Pembentukan Tubuh tingkat
Kesembilan..."
System: “Ding! Selamat, Tuan.
Kultivasi Tuan telah naik level.
Level saat ini adalah Tahap
Transformasi tingkat Pertama ...."
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Kultivasi Tuan telah naik level.
Level saat ini adalah Tahap
Transformasi tingkat Kedua...."
Dalam satu tarikan napas,
Wahna telah meningkatkan
kultivasinya dari tingkat Kedepan
Pembentukan Tubuh ke Tahap
Transformasi tingkat Kedua.
Sesuatu yang tidak mungkin terjadi
jika itu adalah orang lain.
Wahna segera membuka panel
system, ia ingin tahu informasi
terbaru tentang dirinya sendiri.
Nama: Wahna
Ras: Manusia
Kultivasi: Tahap Transformasi tingkat Kedua
Poin Pengalaman: 10,81/370 (+)
Kekuatan Tubuh: Naga Kuno (1/30.000) (+)
Energi Mental: 0/10.000
Keterampilan Aktif:
-Tehnik Tinju Bumi (2/10),
-Tehnik Pedang Surgawi (1/10),
-Tehnik Telapak Dewa (1/10)
Keterampilan Pasif:
-Tehnik Pernapasan (2/10),
-Tehnik Mata Dewa (1/10)
-Keahlian: Array Master (0/10)
Elemen: Api Chaos
Kupon Undian: 0
Ruang Penyimpanan: 10 meter kubik (+)
Poin System: 60 Pts
Versi System: 1.0
Memperhatikan panel
profilenya, Wahna melihat terdapat
banyak perubahan yang
sebelumnya tidak ada.
"System, apa itu Energi Mental?" tanya Wahna dengan
Bersambung ke bab 11
Posting Komentar