Sistem Terkuat (Bab 1)
Bab 1
"Ayo bangun! Sebentar lagi kita sudah harus ke proyek!" panggil Agus sambil mengoyang-goyangkan badan seorang pemuda, yang tidak lain adalah rekannya sendiri untuk segera bangun dari tidurnya. Sambil membuka mata dan mengangkat badannya ke posisi duduk, pemuda itu merentangkan kedua tanggannya, menoleh dan berkata, “Padahal baru sehari jadi kuli bangunan, tapi badanku terasa remuk semua." "Itu karena kamu tidak terbiasa bekerja menggunakan otot (tenaga fisik). Biasanya, kan kerja hanya dengan otak sambil duduk di
belakang meja," sahut Agusmendengar keluhan pemuda itu. "Cepat mandi! Nanti kita terlambat. Bisa-bisa upah kita dipotong oleh mandor sialan itu," pinta Agus melanjutkan, menanggapi dan mengingatkan temannya. Pemuda itu mengangguk, bangkit dari tempat tidur dan langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Kegiatan kerja di sebuah proyek pembangunan swalayan pun berlangsung hingga sore hari. Semua pekerja segera kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, tidak terkecuali dengan Agus dan seorang pemuda yang menjadi rekannya. Di tengah perjalanan pulang, Agus dan temannya singgah di sebuah warung kecil. Warung yang jaraknya hanya lima ratusan meterd ari tempat tinggal mereka.
Ketika mereka duduk di warung itu, ada barisan tentara yang sedang berjalan rapi. Lengkap dengan ransel di punggung dan senjata di kedua tangan. Agus melirik, memperhatikan temannya
yang melihat barisan serdadu dengan tatapan sendu. "Sudahlah Wah ... orang tuamu sudah tenang di surga. Lebih baik kita bekerja agar tetap bisa hidup, bahkan hidup lebih baik," ucap Agus sambil menepuk pundak Wahno, pemuda yang merupakan teman senasib sepenanggungan dengannya. Wahno hanya mengangguk sebagai jawaban, membatin di
dalam hati, ‘Ayah, Ibu... doakan aku agar bisa berguna bagi orang
lain dan kehidupan.'
*
Ayah Wahno adalah seorang perwira tentara dengan pangkat terakhir Kapten. Ayahnya meninggal ketika ia berusia dua
belas tahun. Tidak berselang lama, tepatnya tiga tahun kemudian, ibunya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Semenjak itu, Wahno tinggal bersama pamannya yang berada di pinggiran kota. Meski Wahno tinggal dengan pamannya sendiri, tidak jarang ia mendapat perlakuan yang tidak layak dari keluarga itu. Dia dianggap sebagai beban keluarga, dianaktirikan, yang seringkali dijadikan pelampiasan kemarahan dengan alasan yang tidak jelas. Padahal, uang pensiun ayahnya dikelola seluruhnya oleh sang paman. Ketika lulus SMA, Wahno meninggalkan rumah pamannya tanpa pamit. Ia bekerja sebagai cleaning service di sebuah perusahaan game. Tidak peduli apa kata orang, Wahno menjalaninya dengan sepenuh hati. Selain kecerdasan yang dimilikinya, keberuntungan sepertinya berpihak kepadanya. Belum genap sebulan, Wahno dipindahkan ke bagian administrasi. Bahkan sering kali ia diminta untuk membantu para ahli dalam menyempurnakan sebuah pembuatan game. Selama lima tahun Wahno bekerja di perusahaan game itu, Wahno selalu menyisihkan sebagian gajinya untuk anak-anak yang kurang beruntung. Anak-anak Panti Asuhan yang tak jauh dari rumah kontrakannya. Bahkan saking dekatnya, Wahno sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri. Namun sungguh nahas bagi Wahno, ia dituduh memalsukan data perusahaan. Sekali pun ia Klaim membela diri, namun semua bukti mengarah padanya. Dia tahu dengan pasti, bahwa hal yang menimpanya adalah ulah dari rekan kerjanya sendiri, orang yang selalu iri akan reputasi kerjanya selama ini. Sayangnya, Wahno tidak dapat menunjukkan bukti yang meyakinkan. Hingga pada akhirnya, ia dipecat dari perusahaan game tempat dia mencari nafkah. Wahno mencoba untuk melamar kerja di perusahaan lain, namun selalu ditolak dengan alasan yang klasik. Dan pun Wahno tahu, hal tersebut dikarenakan status dipecatnya telah menyebar luas, disebarkan oleh orang yang Klaim memfitnahnya kepada perusahaan lain. Demi menyambung hidup, pekerjaan apa saja Wahno jalani, asalkan tidak merugikan dan mengambil hak milik orang lain. Menjadi kuli bangunan pun tidak menjadi soal, sekalipun hal itu terlalu berat baginya yang memang tidak terbiasa.
*
"Ini nasi campurnya, Nak," ucap seorang wanita paruh baya, yang merupakan penjual dari warung kecil itu. “Terima kasih, Bu," sahut Wahno tersenyum sembari mengambil nampan dari wanita paruh baya itu. Ketika hendak memasukkan Klaim nasi ke mulutnya, Agus dan Wahno dikagetkan dengan kedatangan lima orang pria. Kelimanya bertubuh kekar dengan banyak tato di sepanjang lengan. "Brak!" suara benturan pintu terdengar, salah satu pria bertatato menamparnya dengan keras dan secara tiba-tiba. "Uang keamanan!" bentak salah satu pria bertato yang lain, dan sepertinya adalah pimpinan dari kelima pria itu. Terkejut dan gemetar wanita paruh baya itu menjawab, “Maaf, saya belum mendapat uang cukup hari ini. Penjualan sangat sepi dan---"
"Mau sepi kek, mau rame kek, bukan urusanku! Cepat uang keamanan! Atau aku obrak-abrik warungmu!" sambil menjulurkan tanganya, pria bertato itu menggerakkan jari telunjuk, sebagai tanda meminta uang kepada si wanita paruh baya. "Tapi uangnya---" belum selesai wanita paruh baya itu berbicara, pria bertato yang meminta uang sebelumnya sudah jatuh tersungkur di tanah. Yap! Wahno bereaksi, ia langsung berdiri dan memukul seketika, tepat pada pelipis kiri pria bertato itu dengan kepalan tangan kanannya........
Bersambung ke Bab 2......
Posting Komentar