Sistem Terkuat Bab 9
Daftar Isi
Bab 9
Tidak menunda waktu begitu
notifikasi system berakhir, berbagai
jenis senjata tingkat Bumi
dipindahkan oleh Wahna ke ruang
penyimpanan system.
Beralih fokus, Wahna melihat
ke arah rak yang lain. Hanya ada
empat jenis senjata pada rak di
pandangannya. Sebuah topeng kayu
menarik perhatiannya.
System: “Ding! Topeng
Siluman. Dengan menggunakan
topeng ini, maka Tuan dapat
meniru orang lain tanpa dapat
diketahui."
System: "Ding! Tehnik peniruan
ini dan tidak terbatas oleh tingkat
kekuatan pihak lain, dan mampu
mencapai sembilan puluh sembilan
koma sembilan sembilan persen
seperti aslinya, terkecuali ingatan
dari objek yang ditiru."
System: “Ding! Topeng Siluman
tidak dapat digunakan untuk
meniru benda mati, binatang,
monster, jiwa maupun roh."
System: "Ding! Benda mati tidak
termasuk pada objek yang semula
adalah mahluk hidup. Untuk
selengkapnya, Tuan dapat melihat
deskripsi."
'Waaah ... bagus ini! Akan aku
buat Keluarga Dege mati tanpa
harus membunuhnya. Hahahaha,'
Wahna tertawa dengan pikirannya,
ada rencana pembalasan yang
bergulir di kepala.
Setelah memastikan tidak ada
yang tertinggal, Wahna keluar dari
ruangan itu. Tidak lupa mengambil
kotak giok putih susu, yang
sebelumnya ia masukkan ke rongga dinding.
Ketika kotak giok diambil,
dinding batu kembali bergetar,
bergerak dari atas ke bawah,
menutup serupa gerakan pintu lift di Bumi.
Menuju pintu celah batu, hari
sudah gelap. Tidak ada yang dapat
dilihat oleh Wahna, tapi dia
merasakan bahaya di luar sana.
Dari indra spiritualnya,
persepsi Wahna mendapati
keberadaan beberapa ekor Srigala
Api. Setidaknya terdapat dua puluh
ekor dengan aura ganas.
'Kampret nih, Srigala! Dia
memanggil sanak saudaranya.
Sialan!' Wahna kembali
menggerutu kesal di dalam hati,
hanya bisa mengurungkan niat,
berbalik arah ke ruang pertama di
dalam celah batu, duduk bersandar
pada dinding.
"System, berapa Poin System
untuk Kupon Undian?" tanya
Wahna tak berdaya, berpikir untuk
mencoba peruntungan.
System: "Ding! Seratus Poin
System untuk satu Kupon Undian."
"Apa? Seratus? Kenapa mahal
sekali! Apa kamu ingin
merampokku di atas
penderitaanku, System?" salak
Wahna dengan marah, tapi tidak
ada jawaban apa pun dari system
setelah beberapa saat.
"Hah!" desah Wahna menahan
kesal, tidak ada pilihan baginya
selain harus menukar Poin System
yang dia miliki, “baiklah. System,
tukar dua ratus Poin System untuk
Kupon Undian, dan langsung undi saja!
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tuan telah menukar dua ratus Poin
System untuk dua Kupon Undian.
Poin System saat ini adalah enam
puluh Poin System."
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tuan telah mendapatkan Tehnik
Mata Dewa, apakah Tuan akan
mempelajarinya?"
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Anda belum beruntung."
Mendapati undian kedua telah
berakhir, Wahna segera meminta
System dengan perintah lanjutan,
"Pelajari Tehnik Mata Dewa!"
Dalam sekejap mata, aliran
pengetahuan membanjiri kepala
Wahna. Berbagai hal terkait Tehnik
Mata Dewa seolah-olah telah ia
pelajari sejak lama.
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tuan telah mempelajari "Tehnik
Mata Dewa."
System: "Ding! Tehnik Mata
Dewa merupakan keterampilan
yang dapat melihat objek secara
detail meskipun jaraknya sangat
jauh. Dapat melihat situasi dalam
kegelapan maupun berkabut."
System: "Ding! Ketika pada level
yang cukup, Tehnik Mata Dewa
dapat menciptakan ilusi kepada
pihak lain. Ilusi yang tercipta pun
dapat membunuh lawan hanya
dengan cara memandangnya."
System: "Ding! Untuk saat ini,
Tehnik Mata Dewa berada pada
level 0/10. Selengkapnya, Tuan
dapat melihat bagian deskripsi."
"Wuuiiiih ... keren! System
memang yang terbaik. Ini bisa
membunuh lawan tanpa bergerak.
Mantab coy!" Wahna berteriak
dengan gembira, tidak menyangka,
dirinya akan mendapatkan
keberuntungan yang melebihi
harapannya.
Segera setelah itu, Wahna
merasakan matanya gatal dengan
rasa sakit yang tak tertahankan.
Sekuat tenaga menahannya, ia
memejamkan mata dengan gigi
terkatup rapat.
Sekitar dua atau tiga menit
berlalu, rasa sakit mulai mereda.
Wahna pun merasakan adanya
perubahan pada pandangan matanya.
Pandangannya semakin cerah
dan jelas, sekecil apa pun, bahkan ia
dapat melihat jumlah sayap dari
seekor nyamuk yang terbang di hadapannya.
Namun karena tingkatannya
yang sangat rendah, Wahna hanya
dapat melihat detail objek pada
jarak lima meter saja. Selebihnya
akan cenderung buram.
Masih tetap bersemangat, ia
mulai melatih diri terhadap Tehnik
Mata Dewa. Dilakukannya berulang
kali, sesuai dengan pengetahuan
yang masuk ke dalam pikirannya.
Setelah beberapa kali berlatih,
akhirnya level Tehnik Mata Dewa
meningkat ke level satu. Dengan
begitu, Wahna dapat melihat objek
secara detail pada jarak satu kilo meter.
Tehnik Mata Dewa juga dapat
menciptakan ilusi ringan pada level
ini, dan ilusi itu akan mampu
bekerja dengan baik terhadap
kekuatan Tahap Transformasi ke bawah.
“Kriuuuk...!” suara
bergemuruh panjang terdengar dari
perut Wahna, membuatnya
menunduk seraya berkata,
"aduuuh... lapar sekali."
"Ah, bukannya banyak daging di
luar celah ini! Hehehehe," Wahna
terkekeh sambil menatap ke arah
luar celah.
Begitu sampai di pintu celah
batu, Wahna berucap di dalam hati,
'Mata Dewa, Penglihatan Malam.'
Saat itu juga, pandangan visual
Wahna berubah. Yang semula dari
gelap gulita, kini menjadi hijau
terang, serupa dengan visi teropong malam.
Wahna segera mengeluarkan
pedangnya, mengalirkan energi
tubuh ke bilah pedang, menebas ke
arah gerombolan Srigala Api,
"Slash!"
Berhasil, tebasan pedang
Wahna mengenai sasaran. Satu dari
sekian banyak Srigala Api itu,
tubuhnya terbelah menjadi dua.
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tuan telah membunuh Srigala Api
Level Ketiga. Poin Pengalaman
bertambah tujuh poin."
Merasa sukses dengan tebasan
pertama, Wahna menebaskan
pedangnya lagi, lagi dan lagi.
Bahkan ia tidak lagi peduli dengan
suara notifikasi system yang terus
berdering di benaknya.
Dalam beberapa saat,
gerombolan Srigala Api tidak lagi
berdiri garang. Semua mati akibat
cahaya merah yang muncul dari
tebasan pedang Wahna.
Dengan cepat Wahna menuju
bangkai Srigala Api yang
berserakan, mengambil bagian
tubuh binatang itu yang kiranya berguna.
Begitu selesai, Wahna kembali
ke dalam ruang kecil celah batu.
Dan untuk menanggulangi
perutnya yang keroncongan, daging
panggang Srigala Api menjadi
solusi saat ini.
***
Bersambung ke bab 10......
Posting Komentar